Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘flash’

Setelah sebulan komunitas ini didirikan, ternyata masih banyak pertanyaan yang diterima mengenai apa itu Flashpacker dan apa bedanya dengan Backpacker atau Turis pada umumnya.

Tulisan ini mencoba memaparkan beberapa perbedaan mendasar antara ketiga paham jalan-jalan dan menjelaskan paham Flashpacking secara lebih lengkap sebagai berikut :

1. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

2. Perbedaan antara Flashpacker dengan Turis : Jika Turis adalah kaum penggemar jalan-jalan yang tidak mau repot-repot mengurus tetek bengek perjalanannya dan menyerahkan semuanya kepada biro perjalanan dengan konsekuensi harus terikat jadwal dan agenda tur yang kaku, maka Flashpacker lebih memilih untuk merencanakan jadwal dan agenda perjalanannya serta mengurus sendiri semua kebutuhan perjalanannya supaya dapat mendalami dan memahami suatu destinasi dengan lebih baik dan dalam waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

3. Perbedaan antara Flashpacker dengan Backpacker : Jika Backpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang mencintai kebebasan waktu tetapi sangat berorientasi kepada anggaran (budget oriented), maka Flashpacker juga mencintai kebebasan waktu tetapi lebih berorientasi kepada pengalaman (experience oriented) serta lebih menghargai kemudahan dan kenyamanan (convenience & comfort) sehingga lebih fleksibel dan moderat dalam hal pengaturan anggaran.

Contoh : Jika memang berniat melihat matahari terbit di Bromo, maka sekalipun penginapan murah dan nyaman sudah penuh dan pilihan hanya tersisa hotel berbintang dengan harga kamar yang lebih mahal, maka Flashpacker biasanya tidak akan terlalu berkeberatan asalkan tujuannya menikmati matahari terbit dapat tercapai.

4. Sebagai kaum penggemar jalan-jalan yang berorientasi kepada pengalaman (experience oriented), maka biasanya Flashpacker bersikap sangat time conscious atau berusaha bijaksana dalam memanfaatkan waktu perjalanannya supaya tidak terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapatkan, sekalipun berarti harus mengeluarkan dana ekstra.

Contoh : Daripada menempuh perjalanan puluhan jam dengan bis untuk mencapai suatu tempat sedangkan sebenarnya tersedia pesawat dengan masa tempuh hanya 1 – 2 jam, biasanya Flashpacker lebih cenderung memilih menghemat waktu dengan memakai pesawat saja walaupun berarti harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

5. Walau menghargai kemudahan dan kenyamanan, tidak lantas berarti bahwa Flashpacker tidak dapat menolerir ketidaknyamanan sama sekali, selama ketidaknyamanan tersebut diperlukan atau tidak dapat dihindari untuk mendapatkan suatu pengalaman tertentu.

Contoh : Kalau memang niatnya hendak mencoba merasakan bagaimana berkemah di puncak gunung, maka sekalipun harus bergemetaran dalam balutan hawa dingin menusuk tulang sepanjang malam (jelas tidak nyaman), maka bagi Flashpacker itu hanyalah sekedar konsekuensi dari pengalaman yang hendak didapatkan dan mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dijalani.

6. Perlu dibedakan arti kenyamanan (comfort) dengan kemewahan (luxury). Walaupun kemewahan selalu identik dengan kenyamanan, tetapi kenyamanan tidak serta merta identik dengan kemewahan. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang menghargai kenyamanan, tetapi belum tentu selalu mencari kemewahan dalam setiap perjalanannya.

Contoh : Bagi seorang Flashpacker, berpergian tidak mutlak harus dengan full service airlines yang mahal apabila memang tersedia budget airlines dengan harga tiket terjangkau tetapi dengan interior kabin yang nyaman.

7. Kesimpulannya, Flashpacking adalah paham jalan-jalan yang memenuhi keempat karakter berikut :

a. Self Organized : Direncanakan dan diorganisir oleh para peserta sendiri

b. Experience Oriented : Berorientasi terhadap pengalaman atau tujuan perjalanan

c. Value Convenience & Comfort : Menghargai kemudahan dan kenyamanan

d. Time Conscious : Berusaha memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya

8. Secara profil, biasanya Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan memadai (catatan : memadai tidak lantas berarti tinggi) tetapi memiliki waktu libur yang terbatas, sehingga berusaha memanfaatkan waktu perjalanannya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perjalanan yang berkesan atau memorable.

Semoga penjelasan di atas sudah jelas untuk menerangkan apa sebenarnya Flashpacking serta perbedaan antara setiap paham jalan-jalan yang ada.

Happy Flashpacking!

Iklan

Read Full Post »

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Etape pertama petualangan ke lima benua ”si Jurik Jalanan” Jeffrey Polnaja hampir berakhir. Misi perdamaian dunianya menyentuh hati penduduk berbagi negara. Citra Indonesia ikut terangkat.

Angin musim gugur berembus kencang di sepanjang jalan raya dari Minsk, ibu kota Belarussia, menuju Moscow, ibu kota Russia, Ahad, 9 September lalu. Guyuran hujan lebat membuat suhu makin dingin, menjadi 2 derajat celcius. Di atas jalanan licin ini, sebuah sepeda motor gede (moge) BMW seri R1150 GS melaju kencang.

Stiker peta Indonesia berlatarbelakang bendera Merah Putih terlihat di kaca depan. Tiga kotak muatan terpasang di bagian belakang moge bercat putih itu. Pengemudinya memakai atribut biker lengkap. Jaket hitam tebal dipadu celana dan sepatu hitam. Tak ketinggalan helm putih plus kacamata hitam.

Atribut ini membuat Jeffrey Polnaja, si pengendara, seolah tak peduli dengan terjangan hujan dan udara yang menusuk tulang. Malah, moge-nya sempat dipacu hingga 150 kilometer per jam. Hanya butuh waktu delapan jam untuk melibas 700 kilometer jarak Minsk-Moskow.

Saat motor bernomor D 5010 JJ (singkatan dari ”Jurik Jalanan”, julukan buat Jeffrey) masuk ke kota Moskow, hari sudah menjelang senja. Jeff –panggilan akrabnya– akan singgah sekitar sepekan di kota paling padat se-Eropa ini. Beberapa acara rutin sudah menanti. Mulai konferensi pers, keliling kota, hingga presentasi di berbagai komunitas.

Pria berdarah Ambon kelahiran Bandung, 45 tahun lalu ini mengadakan konferensi pers di Kantor Berita Ria Novosti, 12 September. Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moscow ini menarik perhatian banyak media lokal maupun asing.

Selang sehari, Jeff bertemu dengan ratusan anggota klub motor BMW Russia di gedung BMW Service Centre. Serbuan pertanyan berbaur kekaguman mengarah ke sang Jurik Jalanan alias Phanthom of The Roads ini. Para anggota klub itu terpesona dengan beragam kisah unik Jeff menjelajahi 42 negara di Asia, Afrika, dan Eropa.

Rusia adalah negara ke-43 dalam rangkaian pengembaraan Jeff keliling dunia naik moge sendirian (solo ride). Di bawah bendera Ride for Peace, ia sudah melibas 75.000 kilometer dari rencana perjalanan 330.000 kilometer. Ini setara dengan 150 kali perjalanan Jakarta-Bali pulang-pergi.

Rute ini terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Jeff mengawali petualangan ini di Jakarta 23 April tahun silam. Dan akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.

Para bikers negeri beruang merah ini pun antusias menanyakan performa sepeda motor BMW Jeff. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram.

Menurut Jeff, motor yang diberi nama Mahesa (dari bahasa Jawa kuno yang berarti kerbau) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc punya kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter.

Selama perjalanan, Jeff melanjutkan, motornya tak pernah ngadat. Salah satu trik yang digunakan adalah membagi beban seimbang dan memilih jalan yang pas. ”Kalaupun ada kerusakan kecil, saya reparasi sendiri,” tuturnya.

Lalu apa sih motivasi Jeff sebenarnya? Jeff menuturkan ide petualangan ini muncul saat acara menonton siaran berita bersama keluarga sekitar tujuh tahun lalu. Berita perang di berbagai belahan bumi mendominasi isi berita. Ini mengundang komentar putra keduanya Rendra Tasta yang saat itu baru 10 tahun. ”Ayah mengapa mereka memberik contoh buruk pada kami? Lakukanlah sesuatu,” ujar Jeff menirukan anaknya.

Jeff langsung menjawab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dan biker sepertinya. Spontan putranya bilang, Jeff bisa kampanye perdamaian dengan mengendarai sepeda motor. ”Ide ini menghantui saya,” ujar suami Milly Ermilia ini.

Kemudian ia mulai merintis upaya mewujudkan ide itu. Selain menyebarkan misi perdamaian, Jeff juga ingin mempromosikan Indonesia sebagai negara cinta damai. Sehingga citra sebagai negara teroris yang mulai melekat bisa dilepas. Selain itu perjalanan ini juga menjadi bukti semangat petualangan dan kemerdekaan dari tiap manusia.

Ternyata ide Jeff mendapat dukungan aneka kalangan. Selain karena misinya mulia, juga karena Jeff sudah lama dikenal sebagai biker tangguh selama 28 tahun menggeluti dunia motor. Tahun 1996, Jeff terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Manti la Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.

Sekitar 30 pendukung dan sponsor Jeff tergabung dalam tim Ride for Peace Officer yang diketuai Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Ada pula tokoh dari beragam klub sepeda motor seperti HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), HOG (Harley Owners Group), Biker Brotherhood, dan tentu saja BMCI (BMW Motorcycles Club Indonesia). Beberapa perusahaan juga ikut jadi sponsor. Ada produsen oli Top One, Eiger, Oakley, dan Djarum.

Pemerintah pun tak mau ketinggalan. Ikatan Motor Indonesia (IMI) membantu pembuatan carnette de passage. Semacam passport untuk kendaraan bermotor. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault juga menobatkan Jeff sebagai duta bangsa. Tak mengherankan jika semua KBRI di negara yang masuk rute Ride for Peace selalu memfasilitasi Jeff.

Dukungan moril, fasilitas hingga dana ini sangat membantu kesuksesan misi Ride for Peace. Maklum, ongkos perjalanan sepanjang satu etape saja sudah lebih dari Rp 1,5 milyar. Itu pun sudah banyak dibantu oleh penduduk lokal yang bersimpati pada misi Jeff. ”Banyak yang suka menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” kata Jeff, yang pernah diinapkan gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam oleh seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Jeff yang ramah, gampang bergaul, dan komunikator. Hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan puluhan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, Jeff biasa menggunakan bahasa tubuh. Dan ternyata bisa dipahami.

Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Jeff adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Jeff berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Jeff lewat.

Ketangguhan Jeff sebagai biker juga teruji saat melewati medan-medan superberat. ”Saya melalui bermacam medan, mulai hutan lebat di Bhutan, pegunungan tinggi sepanjang Himalaya, badai gurun pasir, hingga kawasan perang,” Jeff menjelaskan.

Sekretaris Pertama KBRI Moscow, Johannes Manginsela, mengakui kehebatan Jeff menguasai jalanan. Johannes menyaksikan aksi Jeff melibas jalanan berkelok-kelok dan licin dari perbatasan Russia-Belarussia hingga ke Moscow. Ia naik mobil Mercedes bersama sopir KBRI mengiringi Jeff. ”Orangnya bermental baja dan bertekad kuat untuk mencapai tujuan, meski hujan deras menghadang,” ujar Johannes.

Makna misi perdamaian Jeff makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Jeff tak mengalami masalah. Malah dia sempat ditemani salah satu kepala suku hingga ke perbatasan kota.

Media massa Afghanistan pun kagum pada Jeff yang masih mau masuk ke negara yang tak aman karena konflik. ”Saya datang bukan untuk ikut campur urusan politik dalam negeri, tapi memperkokoh hubungan emosional antar masyarakat berbagai bangsa,” kata Jeff.

Kini, jalinan persahabatan masyarakat antar-bangsa mulai terjalin. Jeff aktif menjaga kontak terutama lewat e-mail dan website. Sebaliknya, beberapa komunitas biker di Eropa juga rajin menampilkan update berita perjalanan Jeff. ”Kami terus melanjutkan kontak persahabatan dengan Jeff dan memuat kisahnya di situs kami,” ujar Vladimir Chaikovsky, After Sales Motorrad Manager BMW Rusia.

Untuk penduduk Indonesia, Jeff menyebarkan misi perdamaian ini lewat buku. Kelak kisah perjalanan Ride for Peace akan dibukukan. Ia berharap makin banyak warga yang terinspirasi untuk berani mencoba, jujur, bermental tangguh dan punya kemauan yang keras. The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace,” slogan itulah yang selalu Jeff pegang teguh.

Astari Yanuarti dan Svet Zakharov ( Moscow)

Catatan :

Liputan diatas pernah dimuat di majalah Gatra edisi No 47/XIII Tanggal 7 Oktober 2007. Saat ini Jeffrey Polnaja sudah pulang ke tanah air dan sedang merencanakan perjalanan etape kedua dari Asia menyeberang ke Amerika lewat selat Bering masuk ke Alaska dan dilanjutkan terus ke Amerika Selatan. Jeffrey Polnaja baru saja tampil di acara KickAndy di Metro TV pada tanggal 30 Januari 2009 lalu.


Read Full Post »

Dengan semangat Flashpacking, dengan ini diberitahukan bahwa komunitas Flashpacker Indonesia kini juga telah hadir di Facebook. Segeralah bergabung di : http://www.new.facebook.com/group.php?gid=50436430107

Happy Flashpacking!

Read Full Post »

Sekalipun pengertian Flashpacker beredar dalam 2 aliran utama, yakni Backpacker beranggaran lebih dan Backpacker dengan seisi tas penuh tech gear, sebenarnya jauh lebih tepat untuk mengatakan bahwa kedua pengertian yang beredar tersebut hanyalah dua diantara beberapa tipe kaum Flashpacker yang bisa diamati.

Dari berbagai sumber, ada beberapa tipe Flashpacker yang dirangkumkan sebagai berikut :

1. The Geeky Flashpacker

Bagi golongan ini, terkoneksi dengan dunia setiap saat sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok seperti oksigen, sehingga tidak mungkin untuk berpergian kemana-mana tanpa menenteng setas penuh gadget dari yang paling umum seperti handphone, mp3 player, kamera, laptop sampai yang dipakai technogeek seperti telepon satelit dan GPS keluaran terbaru.

Mimpi buruk terbesar selama perjalanan adalah ketika mendapatkan baterai habis ketika peradaban terdekat berada 50 km jauhnya, dan kiamat tiba ketika mereka “hilang” sama sekali dari radar dunia di kala semua gadget mereka tidak dapat berfungsi.

2. The Minted Flashpacker

Golongan ini adalah Flashpacker yang mengutamakan kenyamanan berpergian diatas segala-galanya dan tidak pernah ragu untuk menghabiskan dana ekstra untuk mendapatkan kenyaman dan kemudahan lebih dalam perjalanan mereka.

Ketika dihadapkan pada pilihan pergi ke suatu destinasi dengan kereta api selama 5 jam atau terbang selama 1 jam walaupun akan menghabiskan dana 2 – 3 kali lebih besar, mereka memilih terbang.

Bagi golongan ini, anggaran selalu bukan suatu masalah. Sebaliknya, waktu dan kenyamanan itu maha penting. Tinggal sekamar bersempit-sempitan dengan pelancong lain atau berbagi toilet dan dapur umum? Oh that is so not us menurut golongan ini.

3. The Savvy Flashpacker

Golongan ini adalah yang paling mewakili kaum Flashpacker sejati yang berorientasi kepada tujuan perjalanan dan pengalaman, dan berani mencoba apa saja selama pengalaman itu adalah memang yang diinginkan, tanpa harus terjebak dalam aturan, gengsi, status atau identitas kelompok.

Tujuan perjalanan atau pengalaman yang dicari adalah segala-galanya bagi golongan ini, walaupun harus menghabiskan waktu atau dana ekstra. Sebuah perjalanan baru dikatakan sukses kalau tujuan atau pengalaman yang mereka cari sudah tercapai, sekalipun itu berarti harus berdesak-desakan dalam bus rakyat yang dipenuhi oleh petani hanya untuk merasakan kehidupan pedesaan atau malah menginap di hotel bintang 5 dengan harga $ 200.- per malam hanya supaya lebih mudah mencapai lokasi sebuah tempat wisata keesokan subuhnya untuk mengambil foto matahari terbit.

Bagi golongan ini, waktu bisa diatur, dana bisa diusahakan, tapi tujuan dan pengalaman tidak bisa ditawar-tawar.

4. The Minted Geek

Perpaduan dari tipe The Minted & The Geeky. Golongan ini adalah yang menenteng gadget berjubel dan juga sangat mengutamakan kenyamanan dan kemudahan dalam berpergian.

5. The Savvy Geek

Perpaduan dari tipe The Savvy & The Geeky. Bagi golongan ini, tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapat adalah sama pentingnya dengan kebutuhan untuk terkoneksi dengan dunia setiap saat.

Jadi termasuk tipe yang manakah Anda?

(zenu, 14 Januari 2009)

Read Full Post »

Anda mungkin langsung bertanya : Apa itu Flashpacker? Yang pasti Flashpacker adalah kaum pelancong yang melakukan perjalanan secara Flashpacking. Lantas, apa bedanya Flashpacking dengan Backpacking? Apa pula arti Flash dalam istilah ini? Apa pula karakteristik atau preferensi seorang pelancong sehingga dia dianggap Flashpacker?

Flashpacker adalah suatu paham baru dalam ranah jalan-jalan, yang baru dipopulerkan dalam beberapa tahun terakhir. Kalau Anda meng-google istilah ini, Anda bisa mendapatkan berbagai definisi yang beragam, tetapi pada intinya ada 2 aliran utama ataupun gabungan daripada keduanya. Yang pertama adalah Backpacker yang selalu membawa banyak tech gear (baca : peralatan elektronik) seperti handphone, kamera, laptop, mp3 player dsb ketika berpergian, sedangkan yang kedua adalah Backpacker yang memiliki anggaran lebih dalam berpergian.

Hanya saja, baik itu seorang backpacker, peserta tour ataupun pejalan bisnis, hari gene siapa sih yang tidak membawa setidaknya 2 dari barang-barang berikut ketika pergi jalan-jalan : handphone, kamera, mp3 player dan laptop? Siapa sih yang tidak mau mengambil foto untuk kenang-kenangan ketika melancong? Siapa sih yang mau pergi ”menghilang” dari radar keluarga dan teman-teman dengan tidak membawa handphone atau tanpa mengakses email sama sekali? Siapa sih yang tidak berpikir untuk mendengar sedikit musik selama dalam perjalanan untuk mengusir bosan? Tanpa kita sadari, dan juga harus diakui, peralatan elektronik pribadi seperti handphone, kamera, mp3 player bahkan laptop sudah tidak lagi merupakan sebuah kemewahan, tetapi lebih merupakan kebutuhan yang semakin penting sebagai wujud eksistensi di zaman modern ini, apalagi bagi orang yang memang secara ekonomi sanggup berpergian. Terus apabila Flashpacker didefinisikan sebagai Backpacker dengan peralatan elektronik berjubel, lantas apa bedanya dengan Backpacker pada umumnya? Lah wong Backpacker sekarang memang sudah seperti itu kok.

Kalau bicara anggaran, bagaimana pula yang dikatakan memiliki anggaran lebih? Apakah hanya karena seorang backpacker yang mencintai privasi yang kemudian memilih untuk mengambil kamar sendiri daripada berdesak-desakan dengan 4 sampai 6 orang lainnya dalam 1 kamar lantas disebut memiliki anggaran lebih? Bisa jadi si backpacker memilih mengambil kamar sendiri karena memiliki gejala insomnia sehingga membutuhkan keheningan total untuk jatuh tertidur, atau karena menyadari dirinya selalu mengorok kalau sudah tertidur pulas sehingga tidak mau mengganggu teman seperjalanan lainnya, atau bahkan punya kebiasaan nyentrik untuk menyetel lagu rock sebelum tidur. Terlalu banyak alasan, tetapi tidak serta merta menunjukkan bahwa mereka memiliki anggaran lebih.

Alih-alih menitiberatkan definisi pada tech gear dan anggaran, Wikipedia yang merupakan kiblat informasi sejuta umat mendefinisikan Flashpacking secara lebih mengena, yakni backpacking with flash, or style, atau perjalanan backpacking dengan gaya sendiri. Lantas, bagaimana lagi yang dinamakan backpacking dengan gaya sendiri? Jawabannya bisa beragam, tergantung preferensi dan gaya, tetapi intinya adalah pilihan.

Flashpacker lebih tepat disebut kaum penggila jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan turis. Kaum Flashpacker lebih moderat dari Backpacker dalam hal pengontrolan anggaran karena lebih berorientasi kepada  tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak dicari, sehingga anggaran bukanlah yang terpenting.  Akan tetapi, Flashpacker tetap berbagi prinsip dan semangat yang sama dengan Backpacker untuk mengeksplorasi dan mendalami suatu destinasi dengan sebaik-baiknya tanpa harus terlena dalam kenyamanan ekstra ala turis tetapi terjebak dalam kekakuan jadwal yang serba mengikat.

Satu karakteristik utama paling menonjol yang membuat kaum Flashpacker menyandang kata “Flash” (baca : gaya) adalah karena  prinsip untuk selalu memilih apa yang mereka inginkan ketika berpergian, tanpa perlu harus terjebak ke dalam aturan, gengsi, status, paham, penampilan atau identitas kelompok, sehingga anggaran seringkali bukan suatu hal yang terlalu diambil pusing. Berpergian dengan full service airlines, LCC (Low Cost Carrier), ferry, cruise ship, kapal laut, kereta api, bus, mobil, sepeda motor bahkan sepeda atau jalan kaki, semuanya bisa dipertimbangkan kalau diperlukan apabila memang sesuai dengan tujuan berpergian, pengalaman yang hendak didapatkan, ataupun cuma hanya diinginkan secara spontan. Tinggal di hotel berbintang, hostel, losmen atau malah camping, semuanya sah-sah saja kalau memang itu yang diinginkan atau memberikan pengalaman yang hendak dicari. Singkatnya, berpergian ala gue. Atau, traveling yang gue banget.

Seorang Flashpacker bisa merasa nyaman saja untuk tinggal di hostel murah seharga USD 10.- per malam yang dekat dengan Taj Mahal supaya subuh paginya bisa mengambil foto Taj Mahal dengan latar matahari terbit, kemudian siang harinya terbang dengan Singapore Airlines dari New Delhi menuju Bangkok dan menginap di Hotel Sheraton Bangkok untuk mendapatkan kenyamanan beristirahat yang lebih setelah stamina fisiknya terkuras habis akibat melewati medan perjalanan yang berat di India selama berhari-hari. Begitu sudah cukup beristirahat, ia bisa melanjutkan perjalanan ke Chiangmai lewat jalan darat dengan bus hanya untuk dapat menyaksikan secara dekat kehidupan wilayah pedesaan di Thailand. See? Semuanya adalah mengenai pilihan.

Menurut definisi umum yang beredar, profil kaum Flashpacker dideskripsikan sebagai kaum pelancong independen yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan menengah keatas, sehingga mereka memiliki waktu libur yang singkat tetapi sebaliknya memiliki anggaran yang lebih longgar. Karena memiliki pekerjaan tetap yang sibuk, maka kebutuhan untuk berkomunikasi selama perjalanan menjadi teramat penting yang mana menjelaskan kebutuhan untuk selalu membawa tech gear berjubel ke mana pun mereka pergi.

Bagi rata-rata Flashpacker, tujuan atau pengalaman yang didapat dari suatu perjalanan adalah segala-galanya, sekalipun itu berarti harus memilih pesawat terbang yang mahal untuk mempersingkat waktu, atau mungkin harus tinggal di hotel berbintang supaya kualitas istirahat lebih baik. Sekali lagi, selama semua pilihan tersebut sejalan dengan tujuan perjalanan.

Bagi kaum Flashpacker, you are how you travel, jalan-jalan bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi juga merupakan wujud ekspresi diri, seperti halnya penampilan, gaya berbusana, buku yang dibaca atau gadget yang dipakai.

So, apakah Anda termasuk seorang Flashpacker? Jika iya, kami mengundang Anda untuk aktif mengunjungi blog ini untuk mendapatkan tips-tips berpergian, berpetualangan ataupun untuk mendapatkan informasi mengenai kegiatan atau acara kebersamaan yang kami adakan. Silakan juga berbagi pendapat dan pengalaman dengan sesama Flashpacker melalui sumbangan artikel, foto, catatan perjalanan ataupun sekedar memberikan komentar di blog ini, yang mana akan sangat kami hargai.

Anda juga dapat bergabung dengan milis kami :  http://groups.yahoo.com/group/flashpackerindonesia.com untuk kabar atau informasi terkini setiap saat.

Happy Flashpacking!

(zenu, 13 Januari 2009)

Read Full Post »