Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘backpacking’

Setelah sebulan komunitas ini didirikan, ternyata masih banyak pertanyaan yang diterima mengenai apa itu Flashpacker dan apa bedanya dengan Backpacker atau Turis pada umumnya.

Tulisan ini mencoba memaparkan beberapa perbedaan mendasar antara ketiga paham jalan-jalan dan menjelaskan paham Flashpacking secara lebih lengkap sebagai berikut :

1. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

2. Perbedaan antara Flashpacker dengan Turis : Jika Turis adalah kaum penggemar jalan-jalan yang tidak mau repot-repot mengurus tetek bengek perjalanannya dan menyerahkan semuanya kepada biro perjalanan dengan konsekuensi harus terikat jadwal dan agenda tur yang kaku, maka Flashpacker lebih memilih untuk merencanakan jadwal dan agenda perjalanannya serta mengurus sendiri semua kebutuhan perjalanannya supaya dapat mendalami dan memahami suatu destinasi dengan lebih baik dan dalam waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

3. Perbedaan antara Flashpacker dengan Backpacker : Jika Backpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang mencintai kebebasan waktu tetapi sangat berorientasi kepada anggaran (budget oriented), maka Flashpacker juga mencintai kebebasan waktu tetapi lebih berorientasi kepada pengalaman (experience oriented) serta lebih menghargai kemudahan dan kenyamanan (convenience & comfort) sehingga lebih fleksibel dan moderat dalam hal pengaturan anggaran.

Contoh : Jika memang berniat melihat matahari terbit di Bromo, maka sekalipun penginapan murah dan nyaman sudah penuh dan pilihan hanya tersisa hotel berbintang dengan harga kamar yang lebih mahal, maka Flashpacker biasanya tidak akan terlalu berkeberatan asalkan tujuannya menikmati matahari terbit dapat tercapai.

4. Sebagai kaum penggemar jalan-jalan yang berorientasi kepada pengalaman (experience oriented), maka biasanya Flashpacker bersikap sangat time conscious atau berusaha bijaksana dalam memanfaatkan waktu perjalanannya supaya tidak terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapatkan, sekalipun berarti harus mengeluarkan dana ekstra.

Contoh : Daripada menempuh perjalanan puluhan jam dengan bis untuk mencapai suatu tempat sedangkan sebenarnya tersedia pesawat dengan masa tempuh hanya 1 – 2 jam, biasanya Flashpacker lebih cenderung memilih menghemat waktu dengan memakai pesawat saja walaupun berarti harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

5. Walau menghargai kemudahan dan kenyamanan, tidak lantas berarti bahwa Flashpacker tidak dapat menolerir ketidaknyamanan sama sekali, selama ketidaknyamanan tersebut diperlukan atau tidak dapat dihindari untuk mendapatkan suatu pengalaman tertentu.

Contoh : Kalau memang niatnya hendak mencoba merasakan bagaimana berkemah di puncak gunung, maka sekalipun harus bergemetaran dalam balutan hawa dingin menusuk tulang sepanjang malam (jelas tidak nyaman), maka bagi Flashpacker itu hanyalah sekedar konsekuensi dari pengalaman yang hendak didapatkan dan mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dijalani.

6. Perlu dibedakan arti kenyamanan (comfort) dengan kemewahan (luxury). Walaupun kemewahan selalu identik dengan kenyamanan, tetapi kenyamanan tidak serta merta identik dengan kemewahan. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang menghargai kenyamanan, tetapi belum tentu selalu mencari kemewahan dalam setiap perjalanannya.

Contoh : Bagi seorang Flashpacker, berpergian tidak mutlak harus dengan full service airlines yang mahal apabila memang tersedia budget airlines dengan harga tiket terjangkau tetapi dengan interior kabin yang nyaman.

7. Kesimpulannya, Flashpacking adalah paham jalan-jalan yang memenuhi keempat karakter berikut :

a. Self Organized : Direncanakan dan diorganisir oleh para peserta sendiri

b. Experience Oriented : Berorientasi terhadap pengalaman atau tujuan perjalanan

c. Value Convenience & Comfort : Menghargai kemudahan dan kenyamanan

d. Time Conscious : Berusaha memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya

8. Secara profil, biasanya Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan memadai (catatan : memadai tidak lantas berarti tinggi) tetapi memiliki waktu libur yang terbatas, sehingga berusaha memanfaatkan waktu perjalanannya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perjalanan yang berkesan atau memorable.

Semoga penjelasan di atas sudah jelas untuk menerangkan apa sebenarnya Flashpacking serta perbedaan antara setiap paham jalan-jalan yang ada.

Happy Flashpacking!

Read Full Post »

Sabtu, 31 Januari 2009 | 14:49 WIB | KOMPAS/N. Savitri

KEPULAUAN Derawan tak pernah berhenti dibicarakan. Kawasan itu tanpa menebar pesona pun telah mampu memikat hati wisatawan. Seperti yang dilukiskan N Savitri, wanita karier yang tinggal di Jakarta. Walau ia berada di Ibu Kota, wanita beranak satu itu kerap berkunjung ke Derawan. Berikut laporan Savitri, penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim.

BEBERAPA hari lalu saya menyaksikan sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan kegiatan memancing di laut lepas. Lokasinya kalau tidak salah di sekitar Berau, Kalimantan Timur. Salah satu potensi wisata yang ditonjolkan adalah Kepulauan Derawan.

Di kepulauan itu terdapat sejumlah obyek wisata bahari yang cukup menawan dan memikat para wisatawan dunia. Salah satunya adalah taman bawah laut. Para penyelam level dunia sudah sering datang ke tempat ini.

Sedikitnya ada empat pulau yang cukup terkenal di Kepulauan Derawan. Pulau-pulau itu bernama Pulau Maratua, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Selama ini pulau-pulau itu dihuni satwa langka penyu hijau dan penyu sisik.

Menonton tayangan Derawan membuat sarapan pagi saya sedikit terhenti. Ketika itu saya sedang menikmati nasi dengan ikan tuna, ditambah lalapan kemangi dan sayur asem. Lamunan akan keindahan Pulau Derawan mengingkatkan perjalanan saya ke pulau itu. Saya pernah beberapa kali ke tempat itu. Suasananya benar-benar indah dan menawan.

Duluuuu.. ketika saya masa kecil, saya kerap bermain di daerah pesisir. Selama hampir sebelas tahun saya tinggal di Tuban, kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa. Di kota tersebut saya sempat mengenyam pendidikan dari SD sampai SMA karena mengikuti ayah yang kebetulan dinas di kota itu.

Tinggal di daerah pesisir membuat saya sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar Tuban. Ketika itu lautnya belum tercemar dan terlihat bersih. Herannya, kenapa saya kok kurang menyukai suasana pantai. Rasanya, mandi atau bermain di laut kurang nyaman lantaran airnya asin dan terasa lengket semua di badan.

Balik lagi ke Derawan. Biasanya saya berangkat ke Derawan berombongan bersama keluarga. Kami menumpang speedboat. Keakraban di antara sesama teman dan keluarga terasa sekali.

Walau saya kurang menyukai laut, tapi saya benar-benar jatuh hati dengan keindahan dan keelokan Derawan yang benar-benar menawan. Sepanjang mata memandang tanpa menceburkan diri ke laut pun, rasanya keindahan di kepulauan itu serasa merasuk ke dalam jiwa saya lalu melahirkan ketenangan pikiran dan hati.

Sebelumnya saya pernah mendengar, Kabupaten Berau telah merencanakan kawasan konservasi pulau-pulau kecil di Kepulauan Derawan. Potensi kawasan konservasi ini terlihat dari keanekaragaman hayatinya, antara lain satwa endemik.

Selain memiliki beberapa ekosistem tropis yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, dan ekosistem mangrove, Kepulauan Derawan juga punya spesies yang dilindungi dan khas. Spesies itu di antaranya ketam kelapa (Birgus latro), paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Erethmochelys fimbriata), dan dugong (Dugong dugon).

Ketam kelapa dapat ditemukan di Pulau Kakaban dan Maratua, sedangkan ikan Paus bisa dilihat di sekitar Pulau Maratua. Biasanya ikan raksasa ini muncul pada musim-musim tertentu, sedangkan lumba-lumba berada di sekitar Pulau Semama, Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Gosong Muaras.

Penyu juga bisa kita temukan di sekitar Pulau Panjang, Derawan, Semama, Sangalaki, dan Maratua. Adapun Dugong di Pulau Panjang dan Semama. Spesies unik lain adalah Pari Manta (Manta birostris) yang terdapat di Pulau Sangalaki dan Pigmy Seahorse di Pulau Semama dan Derawan.

DUDUK di teras cottage sambil membaca buku ditemani sebutir kelapa muda, ehmm… terasa nikmat, apalagi hembusan angin pantai terasa agak kencang. Pandangan mata saya seakan lepas jauh sampai ke kaki-kaki langit. SubhanAllah… indahnya ciptaan Allah. Semuanya terasa sempurna. Paduan warna laut dan langit, apalagi ketika sunset… wow seakan-akan tidak ada kata yang keluar walau hanya sekadar melukiskan keindahan pemandangan laut Derawan.

Kadang pada saat berjalan di dermaga, kita bisa melihat beberapa ekor penyu besar sedang berenang di tepi dermaga. Ukuran penyu itu mungkin diameternya sekitar satu meter. Cukup besar jika kita bisa duduk di atasnya.

Atau bisa juga kita melihat ikan-ikan dan kadang ubur-ubur. Air lautnya amat jernih sehingga kita bisa melihat semua keindahan bawah laut dengan jelas. Serasa melihat aquarium alam. Apa yang saya gambarkan itu hanya sedikit kecantikan Pantai Derawan saat kita melihatnya dari dermaga.

Menurut teman-teman yang senang diving atau snorkling… alam di bawah laut Derawan lebih menakjubkan. Berbagai jenis ikan dengan warna, corak, dan ukuran bermacam-macam ada di taman-taman laut. Belum lagi kalau kita mengunjungi perkampungan nelayannya. Sebelumnya saya membayangkan, perkampungan itu kumuh seperti perkampungan nelayan lainnya. Tapi, semua dugaan saya itu meleset. Perkampungan nelayan di Derawan benar-benar rapi dan bersih. Tidak ada bau amis yang menyengat.

Satu lagi yang tidak pernah terlewatkan kalau jalan-jalan ke Derawan adalah barbeque party. Wauw…ikan, cumi, udang… fresh langsung dari laut. Tanpa banyak bumbu, hanya garam dan kecap, kemudian dibakar di atas bara arang dan sabut kelapa. Rasanya benar-benar mantap dan lidah semakin rajin menikmati makanan. Nasi hangat plus sambal dadak dan lalap menambah gairah untuk menyantapnya. Alhamdulillah… terima kasih atas semua karunia-Mu…

Itulah sekelumit kenangan saya tentang Derawan, sebuah pulau dengan pantai dan lautnya yang indah dan bisa merubah pandangan saya yang semula kurang suka laut, berubah menjadi cinta laut. Sekarang saya dengan bangga menceritakan keindahan Derawan ke semua orang. Teman-teman yang suka diving selalu saya sarankan agar pergi ke Derawan. Gimana…. Ada yang tertarik dengan Derawan?

Read Full Post »

Salzburg

—Mozart, keindahan alam pegunungan, dan The Sound of Music selalu melekat pada Salzburg. Kota cantik ini bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. ——

Deretan awan kelabu nyaris menutupi mentari pagi. Selarik sinar surya mengilaukan ujung rerumputan halaman rumah mungil di Leopoldskron Strasse 18, Salzburg, Austria. Tetes embun hampir beku didera suhu nol derajat semalam.

Cuaca pada 19 November lalu memang berbalik 180 derajat dari sehari sebelumnya yang bermandikan matahari. Namun mendung tak sanggup menyurutkan semangat menjelajahi kota berpenduduk 150.000 jiwa yang berada di utara Pegunungan Alpen itu.

Maklum, agenda hari terakhir ini sudah menjadi impian terpendam selama satu dekade: menelusuri jejak pembuatan film The Sound of Music. Keindahan alam pegunungan, bangunan kuno, danau, hingga jalan-jalan pedesaan dalam film musikal peraih lima Piala Oscar pada 1965 itu sempat menyihir puluhan juta penggemarnya di seluruh dunia, termasuk saya.

Sebagai penyuka kisah pasangan Baron Georg Ritter von Trapp dan Maria von Trapp, sejak awal saya mencantumkan Salzburg dalam daftar rencana perjalanan backpacker ke Eropa. Sebentar lagi saya akan menjadi bagian angka statistik 300.000-an per tahun peserta tur film legendaris yang dibintangi Julie Andrews dan Christopher Plummer itu.

Usai mengepak tas punggung, saya bergegas membuka pintu keluar rumah Alberto Polimeni, teman yang memberi tumpangan gratis selama tiga hari. “Semoga hari ini berjalan indah, sehingga tur impianmu berkesan dalam,” ucap Alberto, sebelum kami mengucapkan salam perpisahan. Sebab, usai menjalani tur ini, perjalanan saya berlanjut ke destinasi berikutnya, Copenhagen, Denmark.

Tepat pukul 09.00, mobil penjemput dari Salzburg Sighseeing Tours tiba. Biro perjalanan ini membuka tur The Sound of Music sejak 43 tahun lalu berbekal pengalaman sebagai penyedia transportasi dalam pembuatan film itu.

Menurut buku panduan wisata, tur ini dilakukan dua kali sehari, pukul 09.30 dan pukul 14.00. Harga tiket dewasa 37 Euro untuk perjalanan selama empat jam mengelilingi beberapa lokasi di Salzburg dan Salzkammergut. Saya memilih membeli tiket tur karena lebih hemat dan praktis daripada jalan sendirian. Apalagi saya sudah berjalan kaki menelusuri aneka sudut kota selama dua hari pertama.

Schloss Mirabell

Schloss Mirabell

Sepuluh menit kemudian, mobil tiba di Mirabellplatz 2, tempat berkumpul peserta tur. Tapi tak tampak ada keramaian. Hanya terlihat satu bus besar dan beberapa mobil seukuran L-300. Ternyata sebagian peserta pergi ke taman bunga Schloss Mirabell di belakang Mirabellplatz 2. Taman yang dirancang pada 1730 ini berisi aneka rupa bunga, seperti mawar, tulip, dan krokus (bunga berwarna kuning, putih, ungu, dengan daun seperti rumput).

Karena musim dingin, tak semua bunga bermekaran. Hanya mawar dan krokus yang mengembang. Tak satu pun kuncup tulip mekar. Toh, taman ini tetap sedap dipandang karena ditata dengan indah. Ada patung Pegasus (kuda bersayap dalam mitologi Yunani) di tengah air mancur.

Pada saat melihat Pegasus, seketika terbayang adegan lincah Maria bersama tujuh anak-anak Baron von Trapp menyanyikan lagu Do-Re-Mi. Sambil menari-nari mengelilingi Pegasus dan ke segala penjuru taman, Maria mengajarkan pada Liesl dan enam adiknya tangga nada dengan lirik refrain yang menggelitik.

“Doe, a deer, a female deer. Ray, a drop of golden sun. Me, a name I call myself. Far, a long long way to run. Sew, a needle pulling thread. La, a note to follow sew. Tea, I drink with jam and bread. That will bring us back to do.” Selain karena keindahannya (terutama ketika musim panas), adegan tadi membuat taman yang terletak di belakang Mirabell Palace itu wajib dikunjungi pencinta The Sound of Music.

Festung Hohensalzburg

Festung Hohensalzburg

Yang tak boleh di lewatkan, pada saat berdiri di sisi atas sebelah barat Schloss Mirabell, berbalik arahlah. Akan terpampang benteng kota bersejarah Festung Hohensalzburg, memanjang di atas bukit nun di sebelah timur. Bangunan benteng terbesar di Eropa Tengah yang dibangun pada 1077 itu masih utuh. Malah di dalamnya dibangun museum, Golden Hall untuk konser musik klasik, restoran mewah, hingga Stasiun Kereta Festungbahn.

Festung Hohensalzburg termasuk lokasi yang wajib dikunjungi di Salzburg. Harga tiket masuknya hanya 7 euro. Tersedia pilihan naik ke benteng dengan kereta atau berjalan mendaki 15 menit. Karena ukurannya yang superluas dan terletak di atas bukit, siapkan tenaga ekstra. Sehari sebelumnya, saya menghabiskan waktu setengah hari untuk mengelilinginya.

Di dalam benteng ada titik paling tinggi yang boleh dinaiki pengunjung. Dari atap tertinggi ini, kita bisa melihat kecantikan Salzburg dengan sudut 360 derajat. Dua bukit hijau tersembul di antara deretan bangunan kuno abad ke-15 berarsitektur barok (kubah) dan alur-mengular Sungai Salzach yang membelah kota. Di sisi selatan terlihat deretan Pegunungan Alpen. Puncak terdekat, yaitu Untersberg (1.972 meter), terlihat menawan dengan pucuk selimut salju.

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Puas menikmati keindahan Schloss Mirabell, saya kembali ke kantor Salzburg Sighseeing Tours. Empat peserta tur menyusuri lokasi-lokasi syuting The Sound of Music lainnya sudah berkumpul. Karena hanya berlima, kami naik mobil. Sedangkan puluhan peserta tur keliling kota Salzburg naik bus.

Kebetulan semua peserta tur The Sound of Music kali ini perempuan dari negara-negara Asia. Termasuk pengemudi mobil sekaligus pemandu tur, yaitu Sonja (hanya saja, Sonja asli Austria).

Tujuan pertama kami adalah Villa Trapp, yang terletak di kawasan Aigen. Rumah bergaya barok bercat kuning dengan halaman amat luas ini adalah kediaman asli keluarga Baron von Trapp (The Sound of Music adalah film adaptasi dari memoar Maria von Trapp berjudul The Story of the Trapp Family Singers).

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Gazebo Berdinding Kaca

Gazebo berdinding kaca tempat Liesl bertemu Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen

Selanjutnya, rombongan mengarah ke selatan, menuju Hellbrunn Palace. Di halaman istana ini, diletakkan gazebo berdinding kaca, tempat Liesl bertemu dengan Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen. Sayang, pintu gazebo terkunci rapat. “Karena sudah ada beberapa kasus pengunjung yang terpeleset ketika meniru adegan melompat-lompat tempat duduk di gazebo,” kata Sonja.

Rute ketiga, melihat dua lokasi yang digabung menjadi rumah Von Trapp dalam film. Tampilan depan rumah Von Trapp berbeda dari tampilan belakang. Di sisi muka, kru film memakai Fronburg Palace yang terletak tak jauh dari Hellbrunn. Sedangkan untuk fasad belakang, mereka menggunakan Leopoldskron Palace, rumah megah di pinggir danau. Nah, syuting adegan di dalam rumah dilakukan di Studio 20th Century Fox di Los Angeles. Ooo… ternyata begitu, ya.

Setelah melewati kawasan Biara Nonnberg Abbey, tempat tinggal Maria sebelum bekerja di rumah Von Trapp, kami memulai perjalanan panjang menyusuri kawasan pedesaan Distrik Salzburg. Walau disertai gerimis, pemandangan perbukitan hijau, ladang rumput, dan rumah-rumah pedesaan dengan warna mencolok tetap mengundang decak kagum.

Jalan naik-turun dan berbelak-belok pun tak terasa, karena Sonja jago menyetir. Masih ditambah sajian lagu-lagu dalam The Sound of Music yang sebagian besar sudah kami hafal. Alhasil, sepanjang perjalanan sekitar satu jam ini riuh dengan kor menyanyikan The Sound of Music, Do-Re-Mi, Edelweiss, hingga So Long Farewell.

Pada saat melewati Danau Fuschl menuju ke arah Desa St. Gilgen, Sonja memperlambat laju kendaraan. Kawasan pegunungan dengan danau indah ini tampil sebagai pembuka film, dengan pengambilan gambar dari udara. Sebenarnya saya ingin berhenti sejenak di salah satu pebukitan di Distrik Salzkammergut ini, untuk menikmati pemandangan, sekaligus bergaya ala Maria von Trapp lengkap dengan baju tradisional ala pedesaan Austria.

Namun keinginan itu tak dikabulkan Sonja. Selain karena gerimis, udara di luar juga menggigit tulang. “Kalau musim panas, boleh. Kalau sekarang, kamu bisa membeku di luar sana,” tutur Sonja. Meski bisa memahami alasan itu, tetap saja ada sedikit sesal di hati.

Sonja menambahkan, bergaya ala Maria von Trapp memang banyak dilakukan peserta tur pada musim panas, puncak wisatawan datang ke Salzburg. Setiap tahun, Salzburg dikunjungi 6,5 juta turis. Mereka datang dengan aneka alasan. Mulai dengan napak tilas kehidupan musikus ternama Wolfgang Amadeus Mozart yang asli Salzburg, menikmati pertunjukan musik tahunan Salzburg Festival, berjalan menyusuri kota tua (Altstadt), hingga ikut tur The Sound of Music.

"I do", kata Maria von Trapp

"I do", kata Maria von Trapp

Perhentian terakhir kami adalah Mondsee Cathedral, yang ada di sisi utara Distrik Salzkammergut. Setting pernikahan Maria dengan Baron dilakukan di gereja mungil ini. Interiornya masih sama seperti dalam film. Suasana syahdu juga melingkupi seluruh bangunan. Hanya, kali ini yang ada di depan adalah misa pemakaman warga setempat, bukan pemberkatan pernikahan.

Sebelum kembali ke Salzburg, kami berjalan kaki menyusuri kota kecil Mondsee sembari mencari tempat rehat minum kopi. Setelah mengisi perut dengan aneka kue tradisional Austria, kami pulang melalui rute berbeda dengan pemandangan sama indah. Meski puas, tekad untuk kembali datang di musim panas tertanam di dada.

Astari Yanuarti (Salzburg)
Catatan : Artikel ini pernah dimuat di Gatra No 11/XV, 22-28 Januari 2009

Read Full Post »

Teman-teman Flashpackers,

Anda mungkin sudah tahu, tapi tidak ada salahnya saya tunjukkan kekaguman saya dengan memperkenalkan lagi salah seorang petualang terbesar asal Indonesia : Agustinus Wibowo.

Agustinus Wibowo adalah seorang pemuda asal Lumajang, Jawa Timur yang pernah kuliah di Beijing, China dan memilih untuk melakukan perjalanan keliling dunia setelah tamat kuliah. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang melakukan “misi pribadinya” keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai dan tak ketinggalan jalan kaki.

Saat ini Agus masih menetap sementara di Afghanistan, mengumpulkan uang untuk melakukan perjalanan berikutnya. Profil lengkap dan cerita perjalanannya dapat Anda akses di http://www.kompas.com/travel/petualang atau ke blog pribadinya di http://www.avgustin.net.

Walaupun saya bukan penganut backpacking sejati, tetapi keberhasilan Agus melewati medan-medan perjalanan terberat di Asia Tengah selama 3 tahun terakhir dengan cara backpacking dan hanya berbekal USD 2,000.-, serta terpaksa harus mengumpulkan uang dengan bekerja selama perjalanan untuk dapat terus melanjutkan perjalanannya ke barat (Eropa) membuat saya sungguh terkagum. Dibutuhkan keberanian dan keteguhan hati yang luar biasa untuk bisa melakukan hal seperti yang telah ia lakukan dalam 3 tahun terakhir, dan guess what, Agus hanyalah seorang pemuda usia 25 tahun saat ini!

Tanpa perlu diragukan, Agus adalah petualang terbesar asal Indonesia saat ini, dan mungkin juga sekaligus merupakan backpacker terhebat.

He will surely be one of the greatest Indonesian adventure legends.

Bravo Agus! I am proud to always be your proud fan!

(zenu, 19 Januari 2009)

Read Full Post »

Kompas.com | Sabtu, 13 Desember 2008 | 15:17 WIB

Kesalahan saat melakukan perjalanan dapat terjadi pada siapa saja, bahkan pada pengelana yang paling berpengalaman sekalipun. Peserta forum diskusi Fodors.com membagi pengalaman mereka tentang apa yang harus dan jangan dilakukan ketika dalam perjalanan.

01. Teliti baca waktu dan tanggal penerbangan sebelum melakukan pemesanan.

“Saya pernah memesan tiket penerbangan ke Peru, sebuah perjalanan yang saya impikan dalam hidup. Saya dapat harga yang baik dari Delta, 808 dollar AS per orang pergi pulang dari Washington. Tiga hari setelah bayar, baru saya sadar bahwa saya telah memesan tiket pulang pada Minggu tengah malam dan bukannya Sabtu tengah malam. Waktu tengah malam itu yang membuat saya bingung. Saya hubungi Delta, dan memohon dengan sangat agar waktu untuk tiket pulang bisa diubah. Mereka menginformasikan, perubahan waktu itu akan membuat kami harus membayar 500 dollar per orang.” – emd

Tip: Kadang-kadang, walau Anda sudah memeriksa hingga dua sampai tiga kali, Anda masih bisa salah. Setialah pada maskapai penerbangan yang memiliki kebijakan perubahan waktu penerbangan yang murah dan selalu bersikap responsif untuk menanggapi perubahan penerbangan Anda.

02. Jangan marah-marah dan cek tempat duduk Anda dalam penerbangan.

“Saya telah meminta tempat duduk di samping jendela pada penerbangan dari Saigon ke Paris, dan tiket saya di-issued dengan nomor boarding pass 9C. Menyadari “C” tidak mungkin nomor di samping jendela, saya kembali lagi dan meminta agar nomor diubah. Terlambat! Saya menyadari sebelumnya saya telah di-upgrade ke kelas bisnis untuk penerbangan yang amat panjang, dan sekarang dengan sukses telah menurunkannya kembali. Perempuan di tempat cek in tidak mengatakan sepatah kata pun, namun salah saya tidak menyadarinya dari awal”. – Carrabella

03. Jangan pernah menunda perjalanan ke sebuah tempat yang nilai kursnya sedang turun.

“Menurut saya, kesalahan terbesar adalah…tidak mengunjungi Eropa lebih sering ketika nilai tukar kursnya sedang baik!” – dukey

04. Jangan batalkan kartu kredit Anda yang terkait dengan pemesanan tiket.

“Saya membatalkan kartu kredit saya karena kesal dengan kenaikan rate-nya. Kemudian baru saya rasakan akibatnya. Hotel di Paris di mana kami seharusnya tinggal, membatalkan reservasi kami.” – TravelNut

Tip: Buatlah semua pemesanan untuk penerbangan, hotel, dan mobil hanya dengan satu kartu saja untuk mengurangi jumlah kartu yang terpakai dalam rencana perjalanan Anda nantinya. Cetak semua pemesanan diawal dan buat catatan kartu yang Anda gunakan untuk memesan.

05. Pertimbangkan cuaca/musim saat Anda mengunjungi suatu tempat.

“Saya melakukan perjalanan keliling dunia setelah menyelesaikan studi saya. Sebelumnya saya amat sibuk dan tidak sempat melakukan riset menyeluruh tentang tempat tujuan saya. Kejutan terbesar saya temui ketika saya mengunjungi Sidney, Australia, di bulan Agustus dan menyadari itu adalah musim dingin mereka. Saya tidak membawa banyak barang, hanya pakaian yang muat di sebuah tas olahraga. saya terpaksa

menggunakan semua pakaian saya supaya tetap hangat. Saya terlihat seperti toko berjalan ketika menonton Evita disalah satu teater indah mereka yang bergaya Broadway.” – ncounty

07. Jangan berpikir sembarang hotel di pantai pasti ok.

“Berapa tahun lalu saya merencanakan liburan ke pantai bagi pacar saya dan saya, dan memesan hotel di pusat kota di Santo Domingo, Republik Dominika (tanpa melakukan pengecekan sebelumnya). Ya ampun, saya berbaring ditempat tidur dan menangis. Untung, seorang pembantu yang baik di tempat itu menyarankan agar kami pindah saja ke Puerto Plata. Ia juga menolong

kami memilih bis yang tepat dan sampai ke sisi lain pulau tersebut.” – suze

Tip: Ketik alamat hotel Anda di peta Google untuk pengecekan cepat dan melihat hubungannya dengan tujuan Anda.

08. Selalu pesan kamar untuk setiap malam sepanjang perjalanan Anda.

“Saya harus amat berhati-hati ketika memesan hotel. Lebih dari sekali kami tidak punya tempat menginap karena saya pikir, “Ok, kami akan check out dari hotel ini pada tanggal x dan check in ke hotel itu pada tanggal y” tanpa menyadari bahwa itu membuat kami tidak punya tempat menginap pada malam hari tanggal x.” – goddesstogo

09. Jangan pernah berpikir harga kamar hotel Anda tidak akan berubah.

“Tahun lalu, dalam perjalanan ke Bangalore, India, saya berhenti di Paris dan tinggal di kamar yang nyaman di Hotel Tim Hotel di Montparnasse. Saya telah memesan kamar di hotel lain untuk kepulangan saya tetapi lokasi hotel Tim amat dekat ke Bandara, lagipula, mereka setuju untuk menyimpan tas ekstra yang tidak saya butuhkan di India sehingga saya memutuskan untuk membatalkan reservasi saya di hotel lain. Kesalahan besar! Saya kira mereka akan mengenakan harga yang sama kepada saya (harga di internet), dan tidak mengecek lagi. Di samping mendapatkan kamar yang buruk, mereka membebani saya hampir 100 euro karena ada kompetisi olahraga besar di Paris malam itu (saya tidak ingat event-nya).” – Brazilnut

10. Selalu perbaharui SIM Anda.

“Saya tidak memperbaharui SIM saya pada waktunya -dan tampaknya tempat penyewaan mobil hanya mau menyewakan mobil mereka pada para pengemudi yang memiliki ijin! Saya baru melahirkan 4 minggu lalu… dan detail yang kecil semacam itu adalah hal terakhir yang saya pikirkan…sampai saya ditolak!” – miller20621

11. Selalu bawa peta yang baik bersama Anda.

“Saya begitu yakin ke mana saya tuju ketika naik bis di Honolulu. Saya berakhir di suatu wilayah bisnis yang sempit di sisi lain pulau di malam gelap. Si sopir mengatakan inilah tujuan akhir dan tertawa geli ketika saya menyampaikan padanya ke mana sesungguhnya saya menuju.” – Melnq8

Read Full Post »

Dengan semangat Flashpacking, dengan ini diberitahukan bahwa komunitas Flashpacker Indonesia kini juga telah hadir di Facebook. Segeralah bergabung di : http://www.new.facebook.com/group.php?gid=50436430107

Happy Flashpacking!

Read Full Post »

Sekalipun pengertian Flashpacker beredar dalam 2 aliran utama, yakni Backpacker beranggaran lebih dan Backpacker dengan seisi tas penuh tech gear, sebenarnya jauh lebih tepat untuk mengatakan bahwa kedua pengertian yang beredar tersebut hanyalah dua diantara beberapa tipe kaum Flashpacker yang bisa diamati.

Dari berbagai sumber, ada beberapa tipe Flashpacker yang dirangkumkan sebagai berikut :

1. The Geeky Flashpacker

Bagi golongan ini, terkoneksi dengan dunia setiap saat sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok seperti oksigen, sehingga tidak mungkin untuk berpergian kemana-mana tanpa menenteng setas penuh gadget dari yang paling umum seperti handphone, mp3 player, kamera, laptop sampai yang dipakai technogeek seperti telepon satelit dan GPS keluaran terbaru.

Mimpi buruk terbesar selama perjalanan adalah ketika mendapatkan baterai habis ketika peradaban terdekat berada 50 km jauhnya, dan kiamat tiba ketika mereka “hilang” sama sekali dari radar dunia di kala semua gadget mereka tidak dapat berfungsi.

2. The Minted Flashpacker

Golongan ini adalah Flashpacker yang mengutamakan kenyamanan berpergian diatas segala-galanya dan tidak pernah ragu untuk menghabiskan dana ekstra untuk mendapatkan kenyaman dan kemudahan lebih dalam perjalanan mereka.

Ketika dihadapkan pada pilihan pergi ke suatu destinasi dengan kereta api selama 5 jam atau terbang selama 1 jam walaupun akan menghabiskan dana 2 – 3 kali lebih besar, mereka memilih terbang.

Bagi golongan ini, anggaran selalu bukan suatu masalah. Sebaliknya, waktu dan kenyamanan itu maha penting. Tinggal sekamar bersempit-sempitan dengan pelancong lain atau berbagi toilet dan dapur umum? Oh that is so not us menurut golongan ini.

3. The Savvy Flashpacker

Golongan ini adalah yang paling mewakili kaum Flashpacker sejati yang berorientasi kepada tujuan perjalanan dan pengalaman, dan berani mencoba apa saja selama pengalaman itu adalah memang yang diinginkan, tanpa harus terjebak dalam aturan, gengsi, status atau identitas kelompok.

Tujuan perjalanan atau pengalaman yang dicari adalah segala-galanya bagi golongan ini, walaupun harus menghabiskan waktu atau dana ekstra. Sebuah perjalanan baru dikatakan sukses kalau tujuan atau pengalaman yang mereka cari sudah tercapai, sekalipun itu berarti harus berdesak-desakan dalam bus rakyat yang dipenuhi oleh petani hanya untuk merasakan kehidupan pedesaan atau malah menginap di hotel bintang 5 dengan harga $ 200.- per malam hanya supaya lebih mudah mencapai lokasi sebuah tempat wisata keesokan subuhnya untuk mengambil foto matahari terbit.

Bagi golongan ini, waktu bisa diatur, dana bisa diusahakan, tapi tujuan dan pengalaman tidak bisa ditawar-tawar.

4. The Minted Geek

Perpaduan dari tipe The Minted & The Geeky. Golongan ini adalah yang menenteng gadget berjubel dan juga sangat mengutamakan kenyamanan dan kemudahan dalam berpergian.

5. The Savvy Geek

Perpaduan dari tipe The Savvy & The Geeky. Bagi golongan ini, tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapat adalah sama pentingnya dengan kebutuhan untuk terkoneksi dengan dunia setiap saat.

Jadi termasuk tipe yang manakah Anda?

(zenu, 14 Januari 2009)

Read Full Post »

Older Posts »