Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Kisah Perjalanan’ Category

Rila Monastery

— Orang-orang bilang belum ke Bulgaria kalau belum ke Rila Monastery, kompleks biara yang merupakan salah satu dari 9 Situs Warisan Dunia UNESCO yang ada di negara ini —

Di lereng gunung Rila (Rila Mountain) pada ketinggian 1.147 meter di atas permukaan laut, dengan dibatasi oleh sungai Rilska dan sungai Drushlyavitsa, pada abad ke-10 John of Rila, seorang pertapa, membangun sebuah komplek biara di tempat dengan alam pegunungan yang cantik sekali. Kompleks biara ini kemudian dikenal sebagai Rila Monastery.

Kompleks biara ini adalah tempat tujuan wisata paling populer di Bulgaria. Bukan saja karena alam sekitarnya begitu indah, tetapi juga karena sejarah, arsitektur unik dan lukisan dinding kuno yang ada di biara besar ini begitu menarik.

Saint John of Rila, yang reliknya kini bisa dilihat para peziarah di dalam gereja utama, sebenarnya tinggal didalam gua sekitar setengah jam dari biara pada zaman tersebut, sedangkan bangunan biara ini pada awalnya dibangun oleh para murid yang datang berguru padanya.

Rila Monastery mendapat penghormatan dan keistimewaan besar dari para Tzar penguasa Bulgaria, yang memberikan banyak sekali donasi sehingga biara ini tumbuh pesat dan sempat menjadi pusat kebudayaan dan keagamaan pada zaman itu, dengan puncaknya di abad ke-12 sampai ke-14.

Kedatangan tentara kerajaan Ottoman pada akhir abad ke-14 sempat menghentikan kemajuannya, yang lewat berbagai serangan menyebabkan banyak kerusakan terhadap biara ini. Pada akhir abad ke-15, mulailah terjadi perubahan dengan datangnya bantuan berupa buku, uang dan peralatan dari Gereja Orthodoks Rusia. Selanjutnya disusul lagi oleh masa kebangkitan nasional Bulgaria di abad ke-18 dan 19 yang kemudian ikut mendorong kebangkitan kembali biara ini. Di masa tersebut, donasi dari orang kaya di seluruh negeri banyak berdatangan yang kemudian dipakai untuk merekonstrusi dan merenovasi kembali biara ini.

Selasa pagi, tanggal 24 Oktober 2006 bus kami meninggalkan Hotel Kempinski Sofia tempat kami menginap untuk menuju Rila Monastery yang terletak 117 Km di selatan Sofia.

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Perjalanan awal kami melewati jalan tol yang rapih dengan menelusuri pegunungan Balkan yang asri dan hijau sehingga pemandangan sepanjang jalan sungguh menyegarkan mata. Sekitar 30 kilometer terakhir, bus mulai keluar dari jalan tol dan memasuki jalan desa yang tetap rapih dengan pemandangan sekeliling yang lebih cantik lagi karena dipagari oleh pepohonan rindang.

Setelah 2,5 jam berkendara, tibalah kami di kompleks biara seluas 8.800 meter persegi ini. Bus kemudian diparkir persis di depan kompleks yang tampilan luarnya atraktif sekali. Di depan kami tampak bangunan besar berdinding batu yang tinggi kokoh dengan hanya sedikit jendela kecil, sehingga lebih mengesankan sebuah benteng militer daripada biara.

Halaman Depan Rila Monastery

Halaman Depan Rila Monastery

Seringnya serangan perampok yang mengincar harta benda biara membuat kompleks biara ini sengaja dibuat sedemikian kuat agar bisa menangkal serangan dari luar.

Kami kemudian memasuki kompleks biara melewati Dupnitsa Gate, salah satu dari hanya dua gerbang yang ada. Begitu kami melewati tembok gerbang yang tebal dan sangat kokoh tersebut, semuanya langsung terpukau melihat pemandangan yang unik.

Halaman tengah Rila Monastery

Halaman tengah Rila Monastery

Di depan tampak halaman luas beralaskan bebatuan, dengan bangunan tinggi beratap genteng merah yang penuh dengan bentuk cupula cantik berdiri kokoh di sekelilingnya. Di tengah-tengah halaman tampak sebuah menara dan sebuah bangunan gereja. Dari halaman kompleks, bila melihat sekeliling, puncak pegunungan menyembul diatas bangunan biara lengkap dengan pepohonan warna-warni hijau dan kuning serta dilatarbelakangi langit yang membiru. Cantik sekali.

Kompleks biara ini berbentuk closed irregular quadrangle, dengan halaman tengah yang dikelilingi bangunan bentuk segi empat tidak beraturan. Keseluruhan kompleks mengagumkan sekali besarnya, dan di dalam bangunan sekeliling berlantai empat tersebut terdapat tidak kurang dari 300 kamar sempit untuk tempat tinggal para biarawan. Selain itu, juga terdapat 4 buah kapel, kamar kepala biara pria, perpustakaan dan kamar tinggal tamu. Dapurnya juga sungguh mengagumkan, dengan cerobong asap yang besar sekali dan menjulang tinggi sampai ke atap bangunan.

Di tengah halaman dalam, tampak gereja utama yang dibangun antara tahun 1834 – 1837 dan bangunan tertua yaitu sebuah menara batu yang dibangun oleh bangsawan bernama Sebastocrator Hrelyu pada tahun 1334 – 1335.

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Kami kemudian memasuki gereja utama bernama “The Nativity of the Virgin” yang memiliki 5 kubah, dan di dalamnya terdapat tiga buah ceruk altar dan dua kapel. Di dalam gereja banyak barang seni bernilai tinggi seperti mural painting yang dibuat antara tahun 1840 – 1848 oleh berbagai pelukis ternama zaman itu seperti Ivan Nicolav The Icon Painter. Icon di altar utama dilukis oleh Obrazopis, berupa patung berlapis emas, lampu-lampu dan tiang lilin kuno serta frescoes atau lukisan dinding warna warni yang sungguh cantik.

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Lukisan dinding yang dibuat oleh banyak seniman dirampungkan pada tahun 1846. Selain itu banyak juga terdapat lukisan orang suci buatan abad ke-14 sampai ke-19. Galeri juga dipenuhi dengan mural painting. Benar-benar kumpulan karya seni kuno yang sangat indah dan bernilai tinggi.

Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke museum di mana tersimpan berbagai peralatan upacara gereja yang terbuat dari emas atau perak, koleksi koin, senjata kuno, emas permata serta sulaman. Tetapi yang paling dicari oleh para pengunjung ternyata adalah mahakarya unik yang disebut The Raphael’s Cross. Terbuat dari kayu utuh, salib berukuran 81 x 43 cm ini diukir oleh seorang pendeta bernama Raphael. Dengan menggunakan pisau kecil, pahat halus dan kaca pembesar, pendeta ini mengukir 104 cerita religius dan 650 buah gambar sangat kecil seukuran butir beras pada kayu salib itu selama 12 tahun. Luar biasa.

Setelah bekerja selama 12 tahun, pada tahun 1802 pekerjaan maha sulit itu akhirnya berhasil diselesaikan dan sungguh tragis bahwa sang pendeta kemudian kehilangan penglihatannya atau menjadi buta!.

Para pengunjung dilarang keras untuk mengambil foto di dalam museum, sehingga saya pun tidak berani mencoba. Walau begitu, tetap saja ada pengunjung yang berhasil mengambil fotonya, yang bisa dilihat di alamat URL berikut :

http://imagesfrombulgaria.com/v/Monasteries_in_Bulgaria/Rila_Monastery/DSC00775.JPG.html

Perpustakaan yang ada di Rila Monastery ini ternyata juga luar biasa, di mana terdapat 16.000 jilid buku, 134 manuskrip kuno dari abad ke-15 sampai ke-19, yang semuanya merupakan donasi dari seluruh penjuru negeri di masa lampau.

Rila Monastery ditetapkan menjadi Monumen Sejarah Nasional pada 1976, dan pada tahun 1983 dicatatkan ke dalam UNESCO List of World Heritage atau Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sindhiarta Mulya

Iklan

Read Full Post »

Salzburg

—Mozart, keindahan alam pegunungan, dan The Sound of Music selalu melekat pada Salzburg. Kota cantik ini bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. ——

Deretan awan kelabu nyaris menutupi mentari pagi. Selarik sinar surya mengilaukan ujung rerumputan halaman rumah mungil di Leopoldskron Strasse 18, Salzburg, Austria. Tetes embun hampir beku didera suhu nol derajat semalam.

Cuaca pada 19 November lalu memang berbalik 180 derajat dari sehari sebelumnya yang bermandikan matahari. Namun mendung tak sanggup menyurutkan semangat menjelajahi kota berpenduduk 150.000 jiwa yang berada di utara Pegunungan Alpen itu.

Maklum, agenda hari terakhir ini sudah menjadi impian terpendam selama satu dekade: menelusuri jejak pembuatan film The Sound of Music. Keindahan alam pegunungan, bangunan kuno, danau, hingga jalan-jalan pedesaan dalam film musikal peraih lima Piala Oscar pada 1965 itu sempat menyihir puluhan juta penggemarnya di seluruh dunia, termasuk saya.

Sebagai penyuka kisah pasangan Baron Georg Ritter von Trapp dan Maria von Trapp, sejak awal saya mencantumkan Salzburg dalam daftar rencana perjalanan backpacker ke Eropa. Sebentar lagi saya akan menjadi bagian angka statistik 300.000-an per tahun peserta tur film legendaris yang dibintangi Julie Andrews dan Christopher Plummer itu.

Usai mengepak tas punggung, saya bergegas membuka pintu keluar rumah Alberto Polimeni, teman yang memberi tumpangan gratis selama tiga hari. “Semoga hari ini berjalan indah, sehingga tur impianmu berkesan dalam,” ucap Alberto, sebelum kami mengucapkan salam perpisahan. Sebab, usai menjalani tur ini, perjalanan saya berlanjut ke destinasi berikutnya, Copenhagen, Denmark.

Tepat pukul 09.00, mobil penjemput dari Salzburg Sighseeing Tours tiba. Biro perjalanan ini membuka tur The Sound of Music sejak 43 tahun lalu berbekal pengalaman sebagai penyedia transportasi dalam pembuatan film itu.

Menurut buku panduan wisata, tur ini dilakukan dua kali sehari, pukul 09.30 dan pukul 14.00. Harga tiket dewasa 37 Euro untuk perjalanan selama empat jam mengelilingi beberapa lokasi di Salzburg dan Salzkammergut. Saya memilih membeli tiket tur karena lebih hemat dan praktis daripada jalan sendirian. Apalagi saya sudah berjalan kaki menelusuri aneka sudut kota selama dua hari pertama.

Schloss Mirabell

Schloss Mirabell

Sepuluh menit kemudian, mobil tiba di Mirabellplatz 2, tempat berkumpul peserta tur. Tapi tak tampak ada keramaian. Hanya terlihat satu bus besar dan beberapa mobil seukuran L-300. Ternyata sebagian peserta pergi ke taman bunga Schloss Mirabell di belakang Mirabellplatz 2. Taman yang dirancang pada 1730 ini berisi aneka rupa bunga, seperti mawar, tulip, dan krokus (bunga berwarna kuning, putih, ungu, dengan daun seperti rumput).

Karena musim dingin, tak semua bunga bermekaran. Hanya mawar dan krokus yang mengembang. Tak satu pun kuncup tulip mekar. Toh, taman ini tetap sedap dipandang karena ditata dengan indah. Ada patung Pegasus (kuda bersayap dalam mitologi Yunani) di tengah air mancur.

Pada saat melihat Pegasus, seketika terbayang adegan lincah Maria bersama tujuh anak-anak Baron von Trapp menyanyikan lagu Do-Re-Mi. Sambil menari-nari mengelilingi Pegasus dan ke segala penjuru taman, Maria mengajarkan pada Liesl dan enam adiknya tangga nada dengan lirik refrain yang menggelitik.

“Doe, a deer, a female deer. Ray, a drop of golden sun. Me, a name I call myself. Far, a long long way to run. Sew, a needle pulling thread. La, a note to follow sew. Tea, I drink with jam and bread. That will bring us back to do.” Selain karena keindahannya (terutama ketika musim panas), adegan tadi membuat taman yang terletak di belakang Mirabell Palace itu wajib dikunjungi pencinta The Sound of Music.

Festung Hohensalzburg

Festung Hohensalzburg

Yang tak boleh di lewatkan, pada saat berdiri di sisi atas sebelah barat Schloss Mirabell, berbalik arahlah. Akan terpampang benteng kota bersejarah Festung Hohensalzburg, memanjang di atas bukit nun di sebelah timur. Bangunan benteng terbesar di Eropa Tengah yang dibangun pada 1077 itu masih utuh. Malah di dalamnya dibangun museum, Golden Hall untuk konser musik klasik, restoran mewah, hingga Stasiun Kereta Festungbahn.

Festung Hohensalzburg termasuk lokasi yang wajib dikunjungi di Salzburg. Harga tiket masuknya hanya 7 euro. Tersedia pilihan naik ke benteng dengan kereta atau berjalan mendaki 15 menit. Karena ukurannya yang superluas dan terletak di atas bukit, siapkan tenaga ekstra. Sehari sebelumnya, saya menghabiskan waktu setengah hari untuk mengelilinginya.

Di dalam benteng ada titik paling tinggi yang boleh dinaiki pengunjung. Dari atap tertinggi ini, kita bisa melihat kecantikan Salzburg dengan sudut 360 derajat. Dua bukit hijau tersembul di antara deretan bangunan kuno abad ke-15 berarsitektur barok (kubah) dan alur-mengular Sungai Salzach yang membelah kota. Di sisi selatan terlihat deretan Pegunungan Alpen. Puncak terdekat, yaitu Untersberg (1.972 meter), terlihat menawan dengan pucuk selimut salju.

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Puas menikmati keindahan Schloss Mirabell, saya kembali ke kantor Salzburg Sighseeing Tours. Empat peserta tur menyusuri lokasi-lokasi syuting The Sound of Music lainnya sudah berkumpul. Karena hanya berlima, kami naik mobil. Sedangkan puluhan peserta tur keliling kota Salzburg naik bus.

Kebetulan semua peserta tur The Sound of Music kali ini perempuan dari negara-negara Asia. Termasuk pengemudi mobil sekaligus pemandu tur, yaitu Sonja (hanya saja, Sonja asli Austria).

Tujuan pertama kami adalah Villa Trapp, yang terletak di kawasan Aigen. Rumah bergaya barok bercat kuning dengan halaman amat luas ini adalah kediaman asli keluarga Baron von Trapp (The Sound of Music adalah film adaptasi dari memoar Maria von Trapp berjudul The Story of the Trapp Family Singers).

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Gazebo Berdinding Kaca

Gazebo berdinding kaca tempat Liesl bertemu Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen

Selanjutnya, rombongan mengarah ke selatan, menuju Hellbrunn Palace. Di halaman istana ini, diletakkan gazebo berdinding kaca, tempat Liesl bertemu dengan Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen. Sayang, pintu gazebo terkunci rapat. “Karena sudah ada beberapa kasus pengunjung yang terpeleset ketika meniru adegan melompat-lompat tempat duduk di gazebo,” kata Sonja.

Rute ketiga, melihat dua lokasi yang digabung menjadi rumah Von Trapp dalam film. Tampilan depan rumah Von Trapp berbeda dari tampilan belakang. Di sisi muka, kru film memakai Fronburg Palace yang terletak tak jauh dari Hellbrunn. Sedangkan untuk fasad belakang, mereka menggunakan Leopoldskron Palace, rumah megah di pinggir danau. Nah, syuting adegan di dalam rumah dilakukan di Studio 20th Century Fox di Los Angeles. Ooo… ternyata begitu, ya.

Setelah melewati kawasan Biara Nonnberg Abbey, tempat tinggal Maria sebelum bekerja di rumah Von Trapp, kami memulai perjalanan panjang menyusuri kawasan pedesaan Distrik Salzburg. Walau disertai gerimis, pemandangan perbukitan hijau, ladang rumput, dan rumah-rumah pedesaan dengan warna mencolok tetap mengundang decak kagum.

Jalan naik-turun dan berbelak-belok pun tak terasa, karena Sonja jago menyetir. Masih ditambah sajian lagu-lagu dalam The Sound of Music yang sebagian besar sudah kami hafal. Alhasil, sepanjang perjalanan sekitar satu jam ini riuh dengan kor menyanyikan The Sound of Music, Do-Re-Mi, Edelweiss, hingga So Long Farewell.

Pada saat melewati Danau Fuschl menuju ke arah Desa St. Gilgen, Sonja memperlambat laju kendaraan. Kawasan pegunungan dengan danau indah ini tampil sebagai pembuka film, dengan pengambilan gambar dari udara. Sebenarnya saya ingin berhenti sejenak di salah satu pebukitan di Distrik Salzkammergut ini, untuk menikmati pemandangan, sekaligus bergaya ala Maria von Trapp lengkap dengan baju tradisional ala pedesaan Austria.

Namun keinginan itu tak dikabulkan Sonja. Selain karena gerimis, udara di luar juga menggigit tulang. “Kalau musim panas, boleh. Kalau sekarang, kamu bisa membeku di luar sana,” tutur Sonja. Meski bisa memahami alasan itu, tetap saja ada sedikit sesal di hati.

Sonja menambahkan, bergaya ala Maria von Trapp memang banyak dilakukan peserta tur pada musim panas, puncak wisatawan datang ke Salzburg. Setiap tahun, Salzburg dikunjungi 6,5 juta turis. Mereka datang dengan aneka alasan. Mulai dengan napak tilas kehidupan musikus ternama Wolfgang Amadeus Mozart yang asli Salzburg, menikmati pertunjukan musik tahunan Salzburg Festival, berjalan menyusuri kota tua (Altstadt), hingga ikut tur The Sound of Music.

"I do", kata Maria von Trapp

"I do", kata Maria von Trapp

Perhentian terakhir kami adalah Mondsee Cathedral, yang ada di sisi utara Distrik Salzkammergut. Setting pernikahan Maria dengan Baron dilakukan di gereja mungil ini. Interiornya masih sama seperti dalam film. Suasana syahdu juga melingkupi seluruh bangunan. Hanya, kali ini yang ada di depan adalah misa pemakaman warga setempat, bukan pemberkatan pernikahan.

Sebelum kembali ke Salzburg, kami berjalan kaki menyusuri kota kecil Mondsee sembari mencari tempat rehat minum kopi. Setelah mengisi perut dengan aneka kue tradisional Austria, kami pulang melalui rute berbeda dengan pemandangan sama indah. Meski puas, tekad untuk kembali datang di musim panas tertanam di dada.

Astari Yanuarti (Salzburg)
Catatan : Artikel ini pernah dimuat di Gatra No 11/XV, 22-28 Januari 2009

Read Full Post »