Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2009

Rila Monastery

— Orang-orang bilang belum ke Bulgaria kalau belum ke Rila Monastery, kompleks biara yang merupakan salah satu dari 9 Situs Warisan Dunia UNESCO yang ada di negara ini —

Di lereng gunung Rila (Rila Mountain) pada ketinggian 1.147 meter di atas permukaan laut, dengan dibatasi oleh sungai Rilska dan sungai Drushlyavitsa, pada abad ke-10 John of Rila, seorang pertapa, membangun sebuah komplek biara di tempat dengan alam pegunungan yang cantik sekali. Kompleks biara ini kemudian dikenal sebagai Rila Monastery.

Kompleks biara ini adalah tempat tujuan wisata paling populer di Bulgaria. Bukan saja karena alam sekitarnya begitu indah, tetapi juga karena sejarah, arsitektur unik dan lukisan dinding kuno yang ada di biara besar ini begitu menarik.

Saint John of Rila, yang reliknya kini bisa dilihat para peziarah di dalam gereja utama, sebenarnya tinggal didalam gua sekitar setengah jam dari biara pada zaman tersebut, sedangkan bangunan biara ini pada awalnya dibangun oleh para murid yang datang berguru padanya.

Rila Monastery mendapat penghormatan dan keistimewaan besar dari para Tzar penguasa Bulgaria, yang memberikan banyak sekali donasi sehingga biara ini tumbuh pesat dan sempat menjadi pusat kebudayaan dan keagamaan pada zaman itu, dengan puncaknya di abad ke-12 sampai ke-14.

Kedatangan tentara kerajaan Ottoman pada akhir abad ke-14 sempat menghentikan kemajuannya, yang lewat berbagai serangan menyebabkan banyak kerusakan terhadap biara ini. Pada akhir abad ke-15, mulailah terjadi perubahan dengan datangnya bantuan berupa buku, uang dan peralatan dari Gereja Orthodoks Rusia. Selanjutnya disusul lagi oleh masa kebangkitan nasional Bulgaria di abad ke-18 dan 19 yang kemudian ikut mendorong kebangkitan kembali biara ini. Di masa tersebut, donasi dari orang kaya di seluruh negeri banyak berdatangan yang kemudian dipakai untuk merekonstrusi dan merenovasi kembali biara ini.

Selasa pagi, tanggal 24 Oktober 2006 bus kami meninggalkan Hotel Kempinski Sofia tempat kami menginap untuk menuju Rila Monastery yang terletak 117 Km di selatan Sofia.

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Perjalanan awal kami melewati jalan tol yang rapih dengan menelusuri pegunungan Balkan yang asri dan hijau sehingga pemandangan sepanjang jalan sungguh menyegarkan mata. Sekitar 30 kilometer terakhir, bus mulai keluar dari jalan tol dan memasuki jalan desa yang tetap rapih dengan pemandangan sekeliling yang lebih cantik lagi karena dipagari oleh pepohonan rindang.

Setelah 2,5 jam berkendara, tibalah kami di kompleks biara seluas 8.800 meter persegi ini. Bus kemudian diparkir persis di depan kompleks yang tampilan luarnya atraktif sekali. Di depan kami tampak bangunan besar berdinding batu yang tinggi kokoh dengan hanya sedikit jendela kecil, sehingga lebih mengesankan sebuah benteng militer daripada biara.

Halaman Depan Rila Monastery

Halaman Depan Rila Monastery

Seringnya serangan perampok yang mengincar harta benda biara membuat kompleks biara ini sengaja dibuat sedemikian kuat agar bisa menangkal serangan dari luar.

Kami kemudian memasuki kompleks biara melewati Dupnitsa Gate, salah satu dari hanya dua gerbang yang ada. Begitu kami melewati tembok gerbang yang tebal dan sangat kokoh tersebut, semuanya langsung terpukau melihat pemandangan yang unik.

Halaman tengah Rila Monastery

Halaman tengah Rila Monastery

Di depan tampak halaman luas beralaskan bebatuan, dengan bangunan tinggi beratap genteng merah yang penuh dengan bentuk cupula cantik berdiri kokoh di sekelilingnya. Di tengah-tengah halaman tampak sebuah menara dan sebuah bangunan gereja. Dari halaman kompleks, bila melihat sekeliling, puncak pegunungan menyembul diatas bangunan biara lengkap dengan pepohonan warna-warni hijau dan kuning serta dilatarbelakangi langit yang membiru. Cantik sekali.

Kompleks biara ini berbentuk closed irregular quadrangle, dengan halaman tengah yang dikelilingi bangunan bentuk segi empat tidak beraturan. Keseluruhan kompleks mengagumkan sekali besarnya, dan di dalam bangunan sekeliling berlantai empat tersebut terdapat tidak kurang dari 300 kamar sempit untuk tempat tinggal para biarawan. Selain itu, juga terdapat 4 buah kapel, kamar kepala biara pria, perpustakaan dan kamar tinggal tamu. Dapurnya juga sungguh mengagumkan, dengan cerobong asap yang besar sekali dan menjulang tinggi sampai ke atap bangunan.

Di tengah halaman dalam, tampak gereja utama yang dibangun antara tahun 1834 – 1837 dan bangunan tertua yaitu sebuah menara batu yang dibangun oleh bangsawan bernama Sebastocrator Hrelyu pada tahun 1334 – 1335.

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Kami kemudian memasuki gereja utama bernama “The Nativity of the Virgin” yang memiliki 5 kubah, dan di dalamnya terdapat tiga buah ceruk altar dan dua kapel. Di dalam gereja banyak barang seni bernilai tinggi seperti mural painting yang dibuat antara tahun 1840 – 1848 oleh berbagai pelukis ternama zaman itu seperti Ivan Nicolav The Icon Painter. Icon di altar utama dilukis oleh Obrazopis, berupa patung berlapis emas, lampu-lampu dan tiang lilin kuno serta frescoes atau lukisan dinding warna warni yang sungguh cantik.

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Lukisan dinding yang dibuat oleh banyak seniman dirampungkan pada tahun 1846. Selain itu banyak juga terdapat lukisan orang suci buatan abad ke-14 sampai ke-19. Galeri juga dipenuhi dengan mural painting. Benar-benar kumpulan karya seni kuno yang sangat indah dan bernilai tinggi.

Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke museum di mana tersimpan berbagai peralatan upacara gereja yang terbuat dari emas atau perak, koleksi koin, senjata kuno, emas permata serta sulaman. Tetapi yang paling dicari oleh para pengunjung ternyata adalah mahakarya unik yang disebut The Raphael’s Cross. Terbuat dari kayu utuh, salib berukuran 81 x 43 cm ini diukir oleh seorang pendeta bernama Raphael. Dengan menggunakan pisau kecil, pahat halus dan kaca pembesar, pendeta ini mengukir 104 cerita religius dan 650 buah gambar sangat kecil seukuran butir beras pada kayu salib itu selama 12 tahun. Luar biasa.

Setelah bekerja selama 12 tahun, pada tahun 1802 pekerjaan maha sulit itu akhirnya berhasil diselesaikan dan sungguh tragis bahwa sang pendeta kemudian kehilangan penglihatannya atau menjadi buta!.

Para pengunjung dilarang keras untuk mengambil foto di dalam museum, sehingga saya pun tidak berani mencoba. Walau begitu, tetap saja ada pengunjung yang berhasil mengambil fotonya, yang bisa dilihat di alamat URL berikut :

http://imagesfrombulgaria.com/v/Monasteries_in_Bulgaria/Rila_Monastery/DSC00775.JPG.html

Perpustakaan yang ada di Rila Monastery ini ternyata juga luar biasa, di mana terdapat 16.000 jilid buku, 134 manuskrip kuno dari abad ke-15 sampai ke-19, yang semuanya merupakan donasi dari seluruh penjuru negeri di masa lampau.

Rila Monastery ditetapkan menjadi Monumen Sejarah Nasional pada 1976, dan pada tahun 1983 dicatatkan ke dalam UNESCO List of World Heritage atau Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sindhiarta Mulya

Iklan

Read Full Post »

Setelah sebulan komunitas ini didirikan, ternyata masih banyak pertanyaan yang diterima mengenai apa itu Flashpacker dan apa bedanya dengan Backpacker atau Turis pada umumnya.

Tulisan ini mencoba memaparkan beberapa perbedaan mendasar antara ketiga paham jalan-jalan dan menjelaskan paham Flashpacking secara lebih lengkap sebagai berikut :

1. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

2. Perbedaan antara Flashpacker dengan Turis : Jika Turis adalah kaum penggemar jalan-jalan yang tidak mau repot-repot mengurus tetek bengek perjalanannya dan menyerahkan semuanya kepada biro perjalanan dengan konsekuensi harus terikat jadwal dan agenda tur yang kaku, maka Flashpacker lebih memilih untuk merencanakan jadwal dan agenda perjalanannya serta mengurus sendiri semua kebutuhan perjalanannya supaya dapat mendalami dan memahami suatu destinasi dengan lebih baik dan dalam waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

3. Perbedaan antara Flashpacker dengan Backpacker : Jika Backpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang mencintai kebebasan waktu tetapi sangat berorientasi kepada anggaran (budget oriented), maka Flashpacker juga mencintai kebebasan waktu tetapi lebih berorientasi kepada pengalaman (experience oriented) serta lebih menghargai kemudahan dan kenyamanan (convenience & comfort) sehingga lebih fleksibel dan moderat dalam hal pengaturan anggaran.

Contoh : Jika memang berniat melihat matahari terbit di Bromo, maka sekalipun penginapan murah dan nyaman sudah penuh dan pilihan hanya tersisa hotel berbintang dengan harga kamar yang lebih mahal, maka Flashpacker biasanya tidak akan terlalu berkeberatan asalkan tujuannya menikmati matahari terbit dapat tercapai.

4. Sebagai kaum penggemar jalan-jalan yang berorientasi kepada pengalaman (experience oriented), maka biasanya Flashpacker bersikap sangat time conscious atau berusaha bijaksana dalam memanfaatkan waktu perjalanannya supaya tidak terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapatkan, sekalipun berarti harus mengeluarkan dana ekstra.

Contoh : Daripada menempuh perjalanan puluhan jam dengan bis untuk mencapai suatu tempat sedangkan sebenarnya tersedia pesawat dengan masa tempuh hanya 1 – 2 jam, biasanya Flashpacker lebih cenderung memilih menghemat waktu dengan memakai pesawat saja walaupun berarti harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

5. Walau menghargai kemudahan dan kenyamanan, tidak lantas berarti bahwa Flashpacker tidak dapat menolerir ketidaknyamanan sama sekali, selama ketidaknyamanan tersebut diperlukan atau tidak dapat dihindari untuk mendapatkan suatu pengalaman tertentu.

Contoh : Kalau memang niatnya hendak mencoba merasakan bagaimana berkemah di puncak gunung, maka sekalipun harus bergemetaran dalam balutan hawa dingin menusuk tulang sepanjang malam (jelas tidak nyaman), maka bagi Flashpacker itu hanyalah sekedar konsekuensi dari pengalaman yang hendak didapatkan dan mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dijalani.

6. Perlu dibedakan arti kenyamanan (comfort) dengan kemewahan (luxury). Walaupun kemewahan selalu identik dengan kenyamanan, tetapi kenyamanan tidak serta merta identik dengan kemewahan. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang menghargai kenyamanan, tetapi belum tentu selalu mencari kemewahan dalam setiap perjalanannya.

Contoh : Bagi seorang Flashpacker, berpergian tidak mutlak harus dengan full service airlines yang mahal apabila memang tersedia budget airlines dengan harga tiket terjangkau tetapi dengan interior kabin yang nyaman.

7. Kesimpulannya, Flashpacking adalah paham jalan-jalan yang memenuhi keempat karakter berikut :

a. Self Organized : Direncanakan dan diorganisir oleh para peserta sendiri

b. Experience Oriented : Berorientasi terhadap pengalaman atau tujuan perjalanan

c. Value Convenience & Comfort : Menghargai kemudahan dan kenyamanan

d. Time Conscious : Berusaha memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya

8. Secara profil, biasanya Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan memadai (catatan : memadai tidak lantas berarti tinggi) tetapi memiliki waktu libur yang terbatas, sehingga berusaha memanfaatkan waktu perjalanannya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perjalanan yang berkesan atau memorable.

Semoga penjelasan di atas sudah jelas untuk menerangkan apa sebenarnya Flashpacking serta perbedaan antara setiap paham jalan-jalan yang ada.

Happy Flashpacking!

Read Full Post »

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Etape pertama petualangan ke lima benua ”si Jurik Jalanan” Jeffrey Polnaja hampir berakhir. Misi perdamaian dunianya menyentuh hati penduduk berbagi negara. Citra Indonesia ikut terangkat.

Angin musim gugur berembus kencang di sepanjang jalan raya dari Minsk, ibu kota Belarussia, menuju Moscow, ibu kota Russia, Ahad, 9 September lalu. Guyuran hujan lebat membuat suhu makin dingin, menjadi 2 derajat celcius. Di atas jalanan licin ini, sebuah sepeda motor gede (moge) BMW seri R1150 GS melaju kencang.

Stiker peta Indonesia berlatarbelakang bendera Merah Putih terlihat di kaca depan. Tiga kotak muatan terpasang di bagian belakang moge bercat putih itu. Pengemudinya memakai atribut biker lengkap. Jaket hitam tebal dipadu celana dan sepatu hitam. Tak ketinggalan helm putih plus kacamata hitam.

Atribut ini membuat Jeffrey Polnaja, si pengendara, seolah tak peduli dengan terjangan hujan dan udara yang menusuk tulang. Malah, moge-nya sempat dipacu hingga 150 kilometer per jam. Hanya butuh waktu delapan jam untuk melibas 700 kilometer jarak Minsk-Moskow.

Saat motor bernomor D 5010 JJ (singkatan dari ”Jurik Jalanan”, julukan buat Jeffrey) masuk ke kota Moskow, hari sudah menjelang senja. Jeff –panggilan akrabnya– akan singgah sekitar sepekan di kota paling padat se-Eropa ini. Beberapa acara rutin sudah menanti. Mulai konferensi pers, keliling kota, hingga presentasi di berbagai komunitas.

Pria berdarah Ambon kelahiran Bandung, 45 tahun lalu ini mengadakan konferensi pers di Kantor Berita Ria Novosti, 12 September. Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moscow ini menarik perhatian banyak media lokal maupun asing.

Selang sehari, Jeff bertemu dengan ratusan anggota klub motor BMW Russia di gedung BMW Service Centre. Serbuan pertanyan berbaur kekaguman mengarah ke sang Jurik Jalanan alias Phanthom of The Roads ini. Para anggota klub itu terpesona dengan beragam kisah unik Jeff menjelajahi 42 negara di Asia, Afrika, dan Eropa.

Rusia adalah negara ke-43 dalam rangkaian pengembaraan Jeff keliling dunia naik moge sendirian (solo ride). Di bawah bendera Ride for Peace, ia sudah melibas 75.000 kilometer dari rencana perjalanan 330.000 kilometer. Ini setara dengan 150 kali perjalanan Jakarta-Bali pulang-pergi.

Rute ini terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Jeff mengawali petualangan ini di Jakarta 23 April tahun silam. Dan akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.

Para bikers negeri beruang merah ini pun antusias menanyakan performa sepeda motor BMW Jeff. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram.

Menurut Jeff, motor yang diberi nama Mahesa (dari bahasa Jawa kuno yang berarti kerbau) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc punya kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter.

Selama perjalanan, Jeff melanjutkan, motornya tak pernah ngadat. Salah satu trik yang digunakan adalah membagi beban seimbang dan memilih jalan yang pas. ”Kalaupun ada kerusakan kecil, saya reparasi sendiri,” tuturnya.

Lalu apa sih motivasi Jeff sebenarnya? Jeff menuturkan ide petualangan ini muncul saat acara menonton siaran berita bersama keluarga sekitar tujuh tahun lalu. Berita perang di berbagai belahan bumi mendominasi isi berita. Ini mengundang komentar putra keduanya Rendra Tasta yang saat itu baru 10 tahun. ”Ayah mengapa mereka memberik contoh buruk pada kami? Lakukanlah sesuatu,” ujar Jeff menirukan anaknya.

Jeff langsung menjawab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dan biker sepertinya. Spontan putranya bilang, Jeff bisa kampanye perdamaian dengan mengendarai sepeda motor. ”Ide ini menghantui saya,” ujar suami Milly Ermilia ini.

Kemudian ia mulai merintis upaya mewujudkan ide itu. Selain menyebarkan misi perdamaian, Jeff juga ingin mempromosikan Indonesia sebagai negara cinta damai. Sehingga citra sebagai negara teroris yang mulai melekat bisa dilepas. Selain itu perjalanan ini juga menjadi bukti semangat petualangan dan kemerdekaan dari tiap manusia.

Ternyata ide Jeff mendapat dukungan aneka kalangan. Selain karena misinya mulia, juga karena Jeff sudah lama dikenal sebagai biker tangguh selama 28 tahun menggeluti dunia motor. Tahun 1996, Jeff terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Manti la Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.

Sekitar 30 pendukung dan sponsor Jeff tergabung dalam tim Ride for Peace Officer yang diketuai Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Ada pula tokoh dari beragam klub sepeda motor seperti HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), HOG (Harley Owners Group), Biker Brotherhood, dan tentu saja BMCI (BMW Motorcycles Club Indonesia). Beberapa perusahaan juga ikut jadi sponsor. Ada produsen oli Top One, Eiger, Oakley, dan Djarum.

Pemerintah pun tak mau ketinggalan. Ikatan Motor Indonesia (IMI) membantu pembuatan carnette de passage. Semacam passport untuk kendaraan bermotor. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault juga menobatkan Jeff sebagai duta bangsa. Tak mengherankan jika semua KBRI di negara yang masuk rute Ride for Peace selalu memfasilitasi Jeff.

Dukungan moril, fasilitas hingga dana ini sangat membantu kesuksesan misi Ride for Peace. Maklum, ongkos perjalanan sepanjang satu etape saja sudah lebih dari Rp 1,5 milyar. Itu pun sudah banyak dibantu oleh penduduk lokal yang bersimpati pada misi Jeff. ”Banyak yang suka menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” kata Jeff, yang pernah diinapkan gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam oleh seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Jeff yang ramah, gampang bergaul, dan komunikator. Hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan puluhan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, Jeff biasa menggunakan bahasa tubuh. Dan ternyata bisa dipahami.

Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Jeff adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Jeff berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Jeff lewat.

Ketangguhan Jeff sebagai biker juga teruji saat melewati medan-medan superberat. ”Saya melalui bermacam medan, mulai hutan lebat di Bhutan, pegunungan tinggi sepanjang Himalaya, badai gurun pasir, hingga kawasan perang,” Jeff menjelaskan.

Sekretaris Pertama KBRI Moscow, Johannes Manginsela, mengakui kehebatan Jeff menguasai jalanan. Johannes menyaksikan aksi Jeff melibas jalanan berkelok-kelok dan licin dari perbatasan Russia-Belarussia hingga ke Moscow. Ia naik mobil Mercedes bersama sopir KBRI mengiringi Jeff. ”Orangnya bermental baja dan bertekad kuat untuk mencapai tujuan, meski hujan deras menghadang,” ujar Johannes.

Makna misi perdamaian Jeff makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Jeff tak mengalami masalah. Malah dia sempat ditemani salah satu kepala suku hingga ke perbatasan kota.

Media massa Afghanistan pun kagum pada Jeff yang masih mau masuk ke negara yang tak aman karena konflik. ”Saya datang bukan untuk ikut campur urusan politik dalam negeri, tapi memperkokoh hubungan emosional antar masyarakat berbagai bangsa,” kata Jeff.

Kini, jalinan persahabatan masyarakat antar-bangsa mulai terjalin. Jeff aktif menjaga kontak terutama lewat e-mail dan website. Sebaliknya, beberapa komunitas biker di Eropa juga rajin menampilkan update berita perjalanan Jeff. ”Kami terus melanjutkan kontak persahabatan dengan Jeff dan memuat kisahnya di situs kami,” ujar Vladimir Chaikovsky, After Sales Motorrad Manager BMW Rusia.

Untuk penduduk Indonesia, Jeff menyebarkan misi perdamaian ini lewat buku. Kelak kisah perjalanan Ride for Peace akan dibukukan. Ia berharap makin banyak warga yang terinspirasi untuk berani mencoba, jujur, bermental tangguh dan punya kemauan yang keras. The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace,” slogan itulah yang selalu Jeff pegang teguh.

Astari Yanuarti dan Svet Zakharov ( Moscow)

Catatan :

Liputan diatas pernah dimuat di majalah Gatra edisi No 47/XIII Tanggal 7 Oktober 2007. Saat ini Jeffrey Polnaja sudah pulang ke tanah air dan sedang merencanakan perjalanan etape kedua dari Asia menyeberang ke Amerika lewat selat Bering masuk ke Alaska dan dilanjutkan terus ke Amerika Selatan. Jeffrey Polnaja baru saja tampil di acara KickAndy di Metro TV pada tanggal 30 Januari 2009 lalu.


Read Full Post »