Feeds:
Tulisan
Komentar

Rila Monastery

– Orang-orang bilang belum ke Bulgaria kalau belum ke Rila Monastery, kompleks biara yang merupakan salah satu dari 9 Situs Warisan Dunia UNESCO yang ada di negara ini –

Di lereng gunung Rila (Rila Mountain) pada ketinggian 1.147 meter di atas permukaan laut, dengan dibatasi oleh sungai Rilska dan sungai Drushlyavitsa, pada abad ke-10 John of Rila, seorang pertapa, membangun sebuah komplek biara di tempat dengan alam pegunungan yang cantik sekali. Kompleks biara ini kemudian dikenal sebagai Rila Monastery.

Kompleks biara ini adalah tempat tujuan wisata paling populer di Bulgaria. Bukan saja karena alam sekitarnya begitu indah, tetapi juga karena sejarah, arsitektur unik dan lukisan dinding kuno yang ada di biara besar ini begitu menarik.

Saint John of Rila, yang reliknya kini bisa dilihat para peziarah di dalam gereja utama, sebenarnya tinggal didalam gua sekitar setengah jam dari biara pada zaman tersebut, sedangkan bangunan biara ini pada awalnya dibangun oleh para murid yang datang berguru padanya.

Rila Monastery mendapat penghormatan dan keistimewaan besar dari para Tzar penguasa Bulgaria, yang memberikan banyak sekali donasi sehingga biara ini tumbuh pesat dan sempat menjadi pusat kebudayaan dan keagamaan pada zaman itu, dengan puncaknya di abad ke-12 sampai ke-14.

Kedatangan tentara kerajaan Ottoman pada akhir abad ke-14 sempat menghentikan kemajuannya, yang lewat berbagai serangan menyebabkan banyak kerusakan terhadap biara ini. Pada akhir abad ke-15, mulailah terjadi perubahan dengan datangnya bantuan berupa buku, uang dan peralatan dari Gereja Orthodoks Rusia. Selanjutnya disusul lagi oleh masa kebangkitan nasional Bulgaria di abad ke-18 dan 19 yang kemudian ikut mendorong kebangkitan kembali biara ini. Di masa tersebut, donasi dari orang kaya di seluruh negeri banyak berdatangan yang kemudian dipakai untuk merekonstrusi dan merenovasi kembali biara ini.

Selasa pagi, tanggal 24 Oktober 2006 bus kami meninggalkan Hotel Kempinski Sofia tempat kami menginap untuk menuju Rila Monastery yang terletak 117 Km di selatan Sofia.

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Jalan menuju Rila Monastery yang dipenuhi pepohonan rindang nan asri

Perjalanan awal kami melewati jalan tol yang rapih dengan menelusuri pegunungan Balkan yang asri dan hijau sehingga pemandangan sepanjang jalan sungguh menyegarkan mata. Sekitar 30 kilometer terakhir, bus mulai keluar dari jalan tol dan memasuki jalan desa yang tetap rapih dengan pemandangan sekeliling yang lebih cantik lagi karena dipagari oleh pepohonan rindang.

Setelah 2,5 jam berkendara, tibalah kami di kompleks biara seluas 8.800 meter persegi ini. Bus kemudian diparkir persis di depan kompleks yang tampilan luarnya atraktif sekali. Di depan kami tampak bangunan besar berdinding batu yang tinggi kokoh dengan hanya sedikit jendela kecil, sehingga lebih mengesankan sebuah benteng militer daripada biara.

Halaman Depan Rila Monastery

Halaman Depan Rila Monastery

Seringnya serangan perampok yang mengincar harta benda biara membuat kompleks biara ini sengaja dibuat sedemikian kuat agar bisa menangkal serangan dari luar.

Kami kemudian memasuki kompleks biara melewati Dupnitsa Gate, salah satu dari hanya dua gerbang yang ada. Begitu kami melewati tembok gerbang yang tebal dan sangat kokoh tersebut, semuanya langsung terpukau melihat pemandangan yang unik.

Halaman tengah Rila Monastery

Halaman tengah Rila Monastery

Di depan tampak halaman luas beralaskan bebatuan, dengan bangunan tinggi beratap genteng merah yang penuh dengan bentuk cupula cantik berdiri kokoh di sekelilingnya. Di tengah-tengah halaman tampak sebuah menara dan sebuah bangunan gereja. Dari halaman kompleks, bila melihat sekeliling, puncak pegunungan menyembul diatas bangunan biara lengkap dengan pepohonan warna-warni hijau dan kuning serta dilatarbelakangi langit yang membiru. Cantik sekali.

Kompleks biara ini berbentuk closed irregular quadrangle, dengan halaman tengah yang dikelilingi bangunan bentuk segi empat tidak beraturan. Keseluruhan kompleks mengagumkan sekali besarnya, dan di dalam bangunan sekeliling berlantai empat tersebut terdapat tidak kurang dari 300 kamar sempit untuk tempat tinggal para biarawan. Selain itu, juga terdapat 4 buah kapel, kamar kepala biara pria, perpustakaan dan kamar tinggal tamu. Dapurnya juga sungguh mengagumkan, dengan cerobong asap yang besar sekali dan menjulang tinggi sampai ke atap bangunan.

Di tengah halaman dalam, tampak gereja utama yang dibangun antara tahun 1834 – 1837 dan bangunan tertua yaitu sebuah menara batu yang dibangun oleh bangsawan bernama Sebastocrator Hrelyu pada tahun 1334 – 1335.

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Gereja utama di mana relik St. John disimpan

Kami kemudian memasuki gereja utama bernama “The Nativity of the Virgin” yang memiliki 5 kubah, dan di dalamnya terdapat tiga buah ceruk altar dan dua kapel. Di dalam gereja banyak barang seni bernilai tinggi seperti mural painting yang dibuat antara tahun 1840 – 1848 oleh berbagai pelukis ternama zaman itu seperti Ivan Nicolav The Icon Painter. Icon di altar utama dilukis oleh Obrazopis, berupa patung berlapis emas, lampu-lampu dan tiang lilin kuno serta frescoes atau lukisan dinding warna warni yang sungguh cantik.

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Interior gereja dengan kubah yang penuh lukisan

Lukisan dinding yang dibuat oleh banyak seniman dirampungkan pada tahun 1846. Selain itu banyak juga terdapat lukisan orang suci buatan abad ke-14 sampai ke-19. Galeri juga dipenuhi dengan mural painting. Benar-benar kumpulan karya seni kuno yang sangat indah dan bernilai tinggi.

Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke museum di mana tersimpan berbagai peralatan upacara gereja yang terbuat dari emas atau perak, koleksi koin, senjata kuno, emas permata serta sulaman. Tetapi yang paling dicari oleh para pengunjung ternyata adalah mahakarya unik yang disebut The Raphael’s Cross. Terbuat dari kayu utuh, salib berukuran 81 x 43 cm ini diukir oleh seorang pendeta bernama Raphael. Dengan menggunakan pisau kecil, pahat halus dan kaca pembesar, pendeta ini mengukir 104 cerita religius dan 650 buah gambar sangat kecil seukuran butir beras pada kayu salib itu selama 12 tahun. Luar biasa.

Setelah bekerja selama 12 tahun, pada tahun 1802 pekerjaan maha sulit itu akhirnya berhasil diselesaikan dan sungguh tragis bahwa sang pendeta kemudian kehilangan penglihatannya atau menjadi buta!.

Para pengunjung dilarang keras untuk mengambil foto di dalam museum, sehingga saya pun tidak berani mencoba. Walau begitu, tetap saja ada pengunjung yang berhasil mengambil fotonya, yang bisa dilihat di alamat URL berikut :

http://imagesfrombulgaria.com/v/Monasteries_in_Bulgaria/Rila_Monastery/DSC00775.JPG.html

Perpustakaan yang ada di Rila Monastery ini ternyata juga luar biasa, di mana terdapat 16.000 jilid buku, 134 manuskrip kuno dari abad ke-15 sampai ke-19, yang semuanya merupakan donasi dari seluruh penjuru negeri di masa lampau.

Rila Monastery ditetapkan menjadi Monumen Sejarah Nasional pada 1976, dan pada tahun 1983 dicatatkan ke dalam UNESCO List of World Heritage atau Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sindhiarta Mulya

Setelah sebulan komunitas ini didirikan, ternyata masih banyak pertanyaan yang diterima mengenai apa itu Flashpacker dan apa bedanya dengan Backpacker atau Turis pada umumnya.

Tulisan ini mencoba memaparkan beberapa perbedaan mendasar antara ketiga paham jalan-jalan dan menjelaskan paham Flashpacking secara lebih lengkap sebagai berikut :

1. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah-tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

2. Perbedaan antara Flashpacker dengan Turis : Jika Turis adalah kaum penggemar jalan-jalan yang tidak mau repot-repot mengurus tetek bengek perjalanannya dan menyerahkan semuanya kepada biro perjalanan dengan konsekuensi harus terikat jadwal dan agenda tur yang kaku, maka Flashpacker lebih memilih untuk merencanakan jadwal dan agenda perjalanannya serta mengurus sendiri semua kebutuhan perjalanannya supaya dapat mendalami dan memahami suatu destinasi dengan lebih baik dan dalam waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

3. Perbedaan antara Flashpacker dengan Backpacker : Jika Backpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang mencintai kebebasan waktu tetapi sangat berorientasi kepada anggaran (budget oriented), maka Flashpacker juga mencintai kebebasan waktu tetapi lebih berorientasi kepada pengalaman (experience oriented) serta lebih menghargai kemudahan dan kenyamanan (convenience & comfort) sehingga lebih fleksibel dan moderat dalam hal pengaturan anggaran.

Contoh : Jika memang berniat melihat matahari terbit di Bromo, maka sekalipun penginapan murah dan nyaman sudah penuh dan pilihan hanya tersisa hotel berbintang dengan harga kamar yang lebih mahal, maka Flashpacker biasanya tidak akan terlalu berkeberatan asalkan tujuannya menikmati matahari terbit dapat tercapai.

4. Sebagai kaum penggemar jalan-jalan yang berorientasi kepada pengalaman (experience oriented), maka biasanya Flashpacker bersikap sangat time conscious atau berusaha bijaksana dalam memanfaatkan waktu perjalanannya supaya tidak terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapatkan, sekalipun berarti harus mengeluarkan dana ekstra.

Contoh : Daripada menempuh perjalanan puluhan jam dengan bis untuk mencapai suatu tempat sedangkan sebenarnya tersedia pesawat dengan masa tempuh hanya 1 – 2 jam, biasanya Flashpacker lebih cenderung memilih menghemat waktu dengan memakai pesawat saja walaupun berarti harus mengeluarkan dana yang lebih besar.

5. Walau menghargai kemudahan dan kenyamanan, tidak lantas berarti bahwa Flashpacker tidak dapat menolerir ketidaknyamanan sama sekali, selama ketidaknyamanan tersebut diperlukan atau tidak dapat dihindari untuk mendapatkan suatu pengalaman tertentu.

Contoh : Kalau memang niatnya hendak mencoba merasakan bagaimana berkemah di puncak gunung, maka sekalipun harus bergemetaran dalam balutan hawa dingin menusuk tulang sepanjang malam (jelas tidak nyaman), maka bagi Flashpacker itu hanyalah sekedar konsekuensi dari pengalaman yang hendak didapatkan dan mau tidak mau, suka tidak suka, tetap harus dijalani.

6. Perlu dibedakan arti kenyamanan (comfort) dengan kemewahan (luxury). Walaupun kemewahan selalu identik dengan kenyamanan, tetapi kenyamanan tidak serta merta identik dengan kemewahan. Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang menghargai kenyamanan, tetapi belum tentu selalu mencari kemewahan dalam setiap perjalanannya.

Contoh : Bagi seorang Flashpacker, berpergian tidak mutlak harus dengan full service airlines yang mahal apabila memang tersedia budget airlines dengan harga tiket terjangkau tetapi dengan interior kabin yang nyaman.

7. Kesimpulannya, Flashpacking adalah paham jalan-jalan yang memenuhi keempat karakter berikut :

a. Self Organized : Direncanakan dan diorganisir oleh para peserta sendiri

b. Experience Oriented : Berorientasi terhadap pengalaman atau tujuan perjalanan

c. Value Convenience & Comfort : Menghargai kemudahan dan kenyamanan

d. Time Conscious : Berusaha memanfaatkan waktu perjalanan dengan sebaik-baiknya

8. Secara profil, biasanya Flashpacker adalah kaum penggemar jalan-jalan yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan memadai (catatan : memadai tidak lantas berarti tinggi) tetapi memiliki waktu libur yang terbatas, sehingga berusaha memanfaatkan waktu perjalanannya dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan perjalanan yang berkesan atau memorable.

Semoga penjelasan di atas sudah jelas untuk menerangkan apa sebenarnya Flashpacking serta perbedaan antara setiap paham jalan-jalan yang ada.

Happy Flashpacking!

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Jeffrey Polnaja di atas motornya

Etape pertama petualangan ke lima benua ”si Jurik Jalanan” Jeffrey Polnaja hampir berakhir. Misi perdamaian dunianya menyentuh hati penduduk berbagi negara. Citra Indonesia ikut terangkat.

Angin musim gugur berembus kencang di sepanjang jalan raya dari Minsk, ibu kota Belarussia, menuju Moscow, ibu kota Russia, Ahad, 9 September lalu. Guyuran hujan lebat membuat suhu makin dingin, menjadi 2 derajat celcius. Di atas jalanan licin ini, sebuah sepeda motor gede (moge) BMW seri R1150 GS melaju kencang.

Stiker peta Indonesia berlatarbelakang bendera Merah Putih terlihat di kaca depan. Tiga kotak muatan terpasang di bagian belakang moge bercat putih itu. Pengemudinya memakai atribut biker lengkap. Jaket hitam tebal dipadu celana dan sepatu hitam. Tak ketinggalan helm putih plus kacamata hitam.

Atribut ini membuat Jeffrey Polnaja, si pengendara, seolah tak peduli dengan terjangan hujan dan udara yang menusuk tulang. Malah, moge-nya sempat dipacu hingga 150 kilometer per jam. Hanya butuh waktu delapan jam untuk melibas 700 kilometer jarak Minsk-Moskow.

Saat motor bernomor D 5010 JJ (singkatan dari ”Jurik Jalanan”, julukan buat Jeffrey) masuk ke kota Moskow, hari sudah menjelang senja. Jeff –panggilan akrabnya– akan singgah sekitar sepekan di kota paling padat se-Eropa ini. Beberapa acara rutin sudah menanti. Mulai konferensi pers, keliling kota, hingga presentasi di berbagai komunitas.

Pria berdarah Ambon kelahiran Bandung, 45 tahun lalu ini mengadakan konferensi pers di Kantor Berita Ria Novosti, 12 September. Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moscow ini menarik perhatian banyak media lokal maupun asing.

Selang sehari, Jeff bertemu dengan ratusan anggota klub motor BMW Russia di gedung BMW Service Centre. Serbuan pertanyan berbaur kekaguman mengarah ke sang Jurik Jalanan alias Phanthom of The Roads ini. Para anggota klub itu terpesona dengan beragam kisah unik Jeff menjelajahi 42 negara di Asia, Afrika, dan Eropa.

Rusia adalah negara ke-43 dalam rangkaian pengembaraan Jeff keliling dunia naik moge sendirian (solo ride). Di bawah bendera Ride for Peace, ia sudah melibas 75.000 kilometer dari rencana perjalanan 330.000 kilometer. Ini setara dengan 150 kali perjalanan Jakarta-Bali pulang-pergi.

Rute ini terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Jeff mengawali petualangan ini di Jakarta 23 April tahun silam. Dan akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.

Para bikers negeri beruang merah ini pun antusias menanyakan performa sepeda motor BMW Jeff. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram.

Menurut Jeff, motor yang diberi nama Mahesa (dari bahasa Jawa kuno yang berarti kerbau) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc punya kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter.

Selama perjalanan, Jeff melanjutkan, motornya tak pernah ngadat. Salah satu trik yang digunakan adalah membagi beban seimbang dan memilih jalan yang pas. ”Kalaupun ada kerusakan kecil, saya reparasi sendiri,” tuturnya.

Lalu apa sih motivasi Jeff sebenarnya? Jeff menuturkan ide petualangan ini muncul saat acara menonton siaran berita bersama keluarga sekitar tujuh tahun lalu. Berita perang di berbagai belahan bumi mendominasi isi berita. Ini mengundang komentar putra keduanya Rendra Tasta yang saat itu baru 10 tahun. ”Ayah mengapa mereka memberik contoh buruk pada kami? Lakukanlah sesuatu,” ujar Jeff menirukan anaknya.

Jeff langsung menjawab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dan biker sepertinya. Spontan putranya bilang, Jeff bisa kampanye perdamaian dengan mengendarai sepeda motor. ”Ide ini menghantui saya,” ujar suami Milly Ermilia ini.

Kemudian ia mulai merintis upaya mewujudkan ide itu. Selain menyebarkan misi perdamaian, Jeff juga ingin mempromosikan Indonesia sebagai negara cinta damai. Sehingga citra sebagai negara teroris yang mulai melekat bisa dilepas. Selain itu perjalanan ini juga menjadi bukti semangat petualangan dan kemerdekaan dari tiap manusia.

Ternyata ide Jeff mendapat dukungan aneka kalangan. Selain karena misinya mulia, juga karena Jeff sudah lama dikenal sebagai biker tangguh selama 28 tahun menggeluti dunia motor. Tahun 1996, Jeff terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Manti la Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.

Sekitar 30 pendukung dan sponsor Jeff tergabung dalam tim Ride for Peace Officer yang diketuai Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Ada pula tokoh dari beragam klub sepeda motor seperti HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), HOG (Harley Owners Group), Biker Brotherhood, dan tentu saja BMCI (BMW Motorcycles Club Indonesia). Beberapa perusahaan juga ikut jadi sponsor. Ada produsen oli Top One, Eiger, Oakley, dan Djarum.

Pemerintah pun tak mau ketinggalan. Ikatan Motor Indonesia (IMI) membantu pembuatan carnette de passage. Semacam passport untuk kendaraan bermotor. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault juga menobatkan Jeff sebagai duta bangsa. Tak mengherankan jika semua KBRI di negara yang masuk rute Ride for Peace selalu memfasilitasi Jeff.

Dukungan moril, fasilitas hingga dana ini sangat membantu kesuksesan misi Ride for Peace. Maklum, ongkos perjalanan sepanjang satu etape saja sudah lebih dari Rp 1,5 milyar. Itu pun sudah banyak dibantu oleh penduduk lokal yang bersimpati pada misi Jeff. ”Banyak yang suka menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” kata Jeff, yang pernah diinapkan gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam oleh seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Jeff yang ramah, gampang bergaul, dan komunikator. Hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan puluhan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, Jeff biasa menggunakan bahasa tubuh. Dan ternyata bisa dipahami.

Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Jeff adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Jeff berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Jeff lewat.

Ketangguhan Jeff sebagai biker juga teruji saat melewati medan-medan superberat. ”Saya melalui bermacam medan, mulai hutan lebat di Bhutan, pegunungan tinggi sepanjang Himalaya, badai gurun pasir, hingga kawasan perang,” Jeff menjelaskan.

Sekretaris Pertama KBRI Moscow, Johannes Manginsela, mengakui kehebatan Jeff menguasai jalanan. Johannes menyaksikan aksi Jeff melibas jalanan berkelok-kelok dan licin dari perbatasan Russia-Belarussia hingga ke Moscow. Ia naik mobil Mercedes bersama sopir KBRI mengiringi Jeff. ”Orangnya bermental baja dan bertekad kuat untuk mencapai tujuan, meski hujan deras menghadang,” ujar Johannes.

Makna misi perdamaian Jeff makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Jeff tak mengalami masalah. Malah dia sempat ditemani salah satu kepala suku hingga ke perbatasan kota.

Media massa Afghanistan pun kagum pada Jeff yang masih mau masuk ke negara yang tak aman karena konflik. ”Saya datang bukan untuk ikut campur urusan politik dalam negeri, tapi memperkokoh hubungan emosional antar masyarakat berbagai bangsa,” kata Jeff.

Kini, jalinan persahabatan masyarakat antar-bangsa mulai terjalin. Jeff aktif menjaga kontak terutama lewat e-mail dan website. Sebaliknya, beberapa komunitas biker di Eropa juga rajin menampilkan update berita perjalanan Jeff. ”Kami terus melanjutkan kontak persahabatan dengan Jeff dan memuat kisahnya di situs kami,” ujar Vladimir Chaikovsky, After Sales Motorrad Manager BMW Rusia.

Untuk penduduk Indonesia, Jeff menyebarkan misi perdamaian ini lewat buku. Kelak kisah perjalanan Ride for Peace akan dibukukan. Ia berharap makin banyak warga yang terinspirasi untuk berani mencoba, jujur, bermental tangguh dan punya kemauan yang keras. The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace,” slogan itulah yang selalu Jeff pegang teguh.

Astari Yanuarti dan Svet Zakharov ( Moscow)

Catatan :

Liputan diatas pernah dimuat di majalah Gatra edisi No 47/XIII Tanggal 7 Oktober 2007. Saat ini Jeffrey Polnaja sudah pulang ke tanah air dan sedang merencanakan perjalanan etape kedua dari Asia menyeberang ke Amerika lewat selat Bering masuk ke Alaska dan dilanjutkan terus ke Amerika Selatan. Jeffrey Polnaja baru saja tampil di acara KickAndy di Metro TV pada tanggal 30 Januari 2009 lalu.


Sabtu, 31 Januari 2009 | 14:49 WIB | KOMPAS/N. Savitri

KEPULAUAN Derawan tak pernah berhenti dibicarakan. Kawasan itu tanpa menebar pesona pun telah mampu memikat hati wisatawan. Seperti yang dilukiskan N Savitri, wanita karier yang tinggal di Jakarta. Walau ia berada di Ibu Kota, wanita beranak satu itu kerap berkunjung ke Derawan. Berikut laporan Savitri, penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim.

BEBERAPA hari lalu saya menyaksikan sebuah stasiun televisi swasta yang menayangkan kegiatan memancing di laut lepas. Lokasinya kalau tidak salah di sekitar Berau, Kalimantan Timur. Salah satu potensi wisata yang ditonjolkan adalah Kepulauan Derawan.

Di kepulauan itu terdapat sejumlah obyek wisata bahari yang cukup menawan dan memikat para wisatawan dunia. Salah satunya adalah taman bawah laut. Para penyelam level dunia sudah sering datang ke tempat ini.

Sedikitnya ada empat pulau yang cukup terkenal di Kepulauan Derawan. Pulau-pulau itu bernama Pulau Maratua, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Selama ini pulau-pulau itu dihuni satwa langka penyu hijau dan penyu sisik.

Menonton tayangan Derawan membuat sarapan pagi saya sedikit terhenti. Ketika itu saya sedang menikmati nasi dengan ikan tuna, ditambah lalapan kemangi dan sayur asem. Lamunan akan keindahan Pulau Derawan mengingkatkan perjalanan saya ke pulau itu. Saya pernah beberapa kali ke tempat itu. Suasananya benar-benar indah dan menawan.

Duluuuu.. ketika saya masa kecil, saya kerap bermain di daerah pesisir. Selama hampir sebelas tahun saya tinggal di Tuban, kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa. Di kota tersebut saya sempat mengenyam pendidikan dari SD sampai SMA karena mengikuti ayah yang kebetulan dinas di kota itu.

Tinggal di daerah pesisir membuat saya sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar Tuban. Ketika itu lautnya belum tercemar dan terlihat bersih. Herannya, kenapa saya kok kurang menyukai suasana pantai. Rasanya, mandi atau bermain di laut kurang nyaman lantaran airnya asin dan terasa lengket semua di badan.

Balik lagi ke Derawan. Biasanya saya berangkat ke Derawan berombongan bersama keluarga. Kami menumpang speedboat. Keakraban di antara sesama teman dan keluarga terasa sekali.

Walau saya kurang menyukai laut, tapi saya benar-benar jatuh hati dengan keindahan dan keelokan Derawan yang benar-benar menawan. Sepanjang mata memandang tanpa menceburkan diri ke laut pun, rasanya keindahan di kepulauan itu serasa merasuk ke dalam jiwa saya lalu melahirkan ketenangan pikiran dan hati.

Sebelumnya saya pernah mendengar, Kabupaten Berau telah merencanakan kawasan konservasi pulau-pulau kecil di Kepulauan Derawan. Potensi kawasan konservasi ini terlihat dari keanekaragaman hayatinya, antara lain satwa endemik.

Selain memiliki beberapa ekosistem tropis yang terdiri dari ekosistem terumbu karang, ekosistem lamun, dan ekosistem mangrove, Kepulauan Derawan juga punya spesies yang dilindungi dan khas. Spesies itu di antaranya ketam kelapa (Birgus latro), paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Erethmochelys fimbriata), dan dugong (Dugong dugon).

Ketam kelapa dapat ditemukan di Pulau Kakaban dan Maratua, sedangkan ikan Paus bisa dilihat di sekitar Pulau Maratua. Biasanya ikan raksasa ini muncul pada musim-musim tertentu, sedangkan lumba-lumba berada di sekitar Pulau Semama, Sangalaki, Kakaban, Maratua, dan Gosong Muaras.

Penyu juga bisa kita temukan di sekitar Pulau Panjang, Derawan, Semama, Sangalaki, dan Maratua. Adapun Dugong di Pulau Panjang dan Semama. Spesies unik lain adalah Pari Manta (Manta birostris) yang terdapat di Pulau Sangalaki dan Pigmy Seahorse di Pulau Semama dan Derawan.

DUDUK di teras cottage sambil membaca buku ditemani sebutir kelapa muda, ehmm… terasa nikmat, apalagi hembusan angin pantai terasa agak kencang. Pandangan mata saya seakan lepas jauh sampai ke kaki-kaki langit. SubhanAllah… indahnya ciptaan Allah. Semuanya terasa sempurna. Paduan warna laut dan langit, apalagi ketika sunset… wow seakan-akan tidak ada kata yang keluar walau hanya sekadar melukiskan keindahan pemandangan laut Derawan.

Kadang pada saat berjalan di dermaga, kita bisa melihat beberapa ekor penyu besar sedang berenang di tepi dermaga. Ukuran penyu itu mungkin diameternya sekitar satu meter. Cukup besar jika kita bisa duduk di atasnya.

Atau bisa juga kita melihat ikan-ikan dan kadang ubur-ubur. Air lautnya amat jernih sehingga kita bisa melihat semua keindahan bawah laut dengan jelas. Serasa melihat aquarium alam. Apa yang saya gambarkan itu hanya sedikit kecantikan Pantai Derawan saat kita melihatnya dari dermaga.

Menurut teman-teman yang senang diving atau snorkling… alam di bawah laut Derawan lebih menakjubkan. Berbagai jenis ikan dengan warna, corak, dan ukuran bermacam-macam ada di taman-taman laut. Belum lagi kalau kita mengunjungi perkampungan nelayannya. Sebelumnya saya membayangkan, perkampungan itu kumuh seperti perkampungan nelayan lainnya. Tapi, semua dugaan saya itu meleset. Perkampungan nelayan di Derawan benar-benar rapi dan bersih. Tidak ada bau amis yang menyengat.

Satu lagi yang tidak pernah terlewatkan kalau jalan-jalan ke Derawan adalah barbeque party. Wauw…ikan, cumi, udang… fresh langsung dari laut. Tanpa banyak bumbu, hanya garam dan kecap, kemudian dibakar di atas bara arang dan sabut kelapa. Rasanya benar-benar mantap dan lidah semakin rajin menikmati makanan. Nasi hangat plus sambal dadak dan lalap menambah gairah untuk menyantapnya. Alhamdulillah… terima kasih atas semua karunia-Mu…

Itulah sekelumit kenangan saya tentang Derawan, sebuah pulau dengan pantai dan lautnya yang indah dan bisa merubah pandangan saya yang semula kurang suka laut, berubah menjadi cinta laut. Sekarang saya dengan bangga menceritakan keindahan Derawan ke semua orang. Teman-teman yang suka diving selalu saya sarankan agar pergi ke Derawan. Gimana…. Ada yang tertarik dengan Derawan?

Selasa, 27 Januari 2009 | 09:19 WIB | KOMPAS/JOHNNY TG

JAKARTA, SELASA — Pesatnya pertumbuhan aktivitas perdagangan makanan ringan di Blok M membuat Pemerintah Kota Jakarta Selatan berniat menjadikan kawasan itu sebagai pusat kuliner. Kawasan Blok M juga akan dilengkapi dengan pusat kuliner masakan Betawi, nasional, dan internasional.

Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi, Senin (26/1) di Jakarta, mengatakan, pihaknya akan menata kembali pasar kue subuh yang saat ini mendominasi aktivitas pada pagi hari. Kawasan yang selama ini kotor, macet, dan semrawut akan dirapikan sehingga warga tertarik untuk datang.

Penataan pasar kue subuh di Jalan Melawai IX adalah langkah awal untuk mempercantik kawasan Blok M yang sudah lama ditinggalkan. Kawasan yang akan ditata sekitar 13,8 hektar dari total luas kawasan Blok M yang mencapai 37,74 hektar.

Koordinator Pedagang Kue Subuh Blok M Square Musyarif mengatakan, ada sekitar 180 pedagang yang berjualan di kawasan itu. Meskipun hanya berdagang dari pukul 05.00 sampai 08.00, omzet mereka mencapai Rp 500 juta per hari.

Selain pengembangan pasar kue subuh, Pemkot Jakarta Selatan akan mengoptimalkan Jalan Melawai I sebagai pintu masuk utama, pusat aktivitas interaksi pengunjung, sarana olahraga, serta sarana pentas seni dan budaya. Pusat kuliner Betawi dan nasional akan dikembangkan di Jalan Melawai III, yang dipadu dengan tempat pejalan kaki.

Jalan Melawai V dan VII akan dikhususkan sebagai kawasan kuliner Asia dan internasional. Pusat perdagangan aksesori juga difokuskan di Jalan Melawai V.

Bantuan modal

Untuk membantu para pedagang kue subuh dan pengusaha kecil, Ketua Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Eddy Kuntadi menyatakan siap membantu di bidang permodalan dan pembinaan. Di bidang permodalan, Kadin akan menjembatani para pengusaha kecil dengan kalangan perbankan agar mudah mendapatkan kucuran kredit.

”Kadin sebagai payung dunia usaha telah menargetkan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Jakarta. Selain permodalan, Kadin juga akan membantu pengembangan usaha kecil,” kata Eddy saat mengunjungi para pedagang kue subuh.

Kadin, kata Eddy, juga mendesak para pengelola pusat perdagangan untuk mematuhi UU Nomor 20 Tahun 2008 untuk menyediakan 20 persen lahan bagi aktivitas UMKM. Penyediaan lahan itu tak merugikan mereka karena pengusaha UMKM juga akan membayarnya.

Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM juga sedang menjembatani kalangan perbankan dan koperasi serta UMKM untuk membantu permodalan. Pemerintah dan Kadin terus mendorong perkembangan pengusaha UMKM agar perekonomian Jakarta dapat bertahan pada masa krisis.

Salzburg

—Mozart, keindahan alam pegunungan, dan The Sound of Music selalu melekat pada Salzburg. Kota cantik ini bisa dijelajahi dengan berjalan kaki. ——

Deretan awan kelabu nyaris menutupi mentari pagi. Selarik sinar surya mengilaukan ujung rerumputan halaman rumah mungil di Leopoldskron Strasse 18, Salzburg, Austria. Tetes embun hampir beku didera suhu nol derajat semalam.

Cuaca pada 19 November lalu memang berbalik 180 derajat dari sehari sebelumnya yang bermandikan matahari. Namun mendung tak sanggup menyurutkan semangat menjelajahi kota berpenduduk 150.000 jiwa yang berada di utara Pegunungan Alpen itu.

Maklum, agenda hari terakhir ini sudah menjadi impian terpendam selama satu dekade: menelusuri jejak pembuatan film The Sound of Music. Keindahan alam pegunungan, bangunan kuno, danau, hingga jalan-jalan pedesaan dalam film musikal peraih lima Piala Oscar pada 1965 itu sempat menyihir puluhan juta penggemarnya di seluruh dunia, termasuk saya.

Sebagai penyuka kisah pasangan Baron Georg Ritter von Trapp dan Maria von Trapp, sejak awal saya mencantumkan Salzburg dalam daftar rencana perjalanan backpacker ke Eropa. Sebentar lagi saya akan menjadi bagian angka statistik 300.000-an per tahun peserta tur film legendaris yang dibintangi Julie Andrews dan Christopher Plummer itu.

Usai mengepak tas punggung, saya bergegas membuka pintu keluar rumah Alberto Polimeni, teman yang memberi tumpangan gratis selama tiga hari. “Semoga hari ini berjalan indah, sehingga tur impianmu berkesan dalam,” ucap Alberto, sebelum kami mengucapkan salam perpisahan. Sebab, usai menjalani tur ini, perjalanan saya berlanjut ke destinasi berikutnya, Copenhagen, Denmark.

Tepat pukul 09.00, mobil penjemput dari Salzburg Sighseeing Tours tiba. Biro perjalanan ini membuka tur The Sound of Music sejak 43 tahun lalu berbekal pengalaman sebagai penyedia transportasi dalam pembuatan film itu.

Menurut buku panduan wisata, tur ini dilakukan dua kali sehari, pukul 09.30 dan pukul 14.00. Harga tiket dewasa 37 Euro untuk perjalanan selama empat jam mengelilingi beberapa lokasi di Salzburg dan Salzkammergut. Saya memilih membeli tiket tur karena lebih hemat dan praktis daripada jalan sendirian. Apalagi saya sudah berjalan kaki menelusuri aneka sudut kota selama dua hari pertama.

Schloss Mirabell

Schloss Mirabell

Sepuluh menit kemudian, mobil tiba di Mirabellplatz 2, tempat berkumpul peserta tur. Tapi tak tampak ada keramaian. Hanya terlihat satu bus besar dan beberapa mobil seukuran L-300. Ternyata sebagian peserta pergi ke taman bunga Schloss Mirabell di belakang Mirabellplatz 2. Taman yang dirancang pada 1730 ini berisi aneka rupa bunga, seperti mawar, tulip, dan krokus (bunga berwarna kuning, putih, ungu, dengan daun seperti rumput).

Karena musim dingin, tak semua bunga bermekaran. Hanya mawar dan krokus yang mengembang. Tak satu pun kuncup tulip mekar. Toh, taman ini tetap sedap dipandang karena ditata dengan indah. Ada patung Pegasus (kuda bersayap dalam mitologi Yunani) di tengah air mancur.

Pada saat melihat Pegasus, seketika terbayang adegan lincah Maria bersama tujuh anak-anak Baron von Trapp menyanyikan lagu Do-Re-Mi. Sambil menari-nari mengelilingi Pegasus dan ke segala penjuru taman, Maria mengajarkan pada Liesl dan enam adiknya tangga nada dengan lirik refrain yang menggelitik.

“Doe, a deer, a female deer. Ray, a drop of golden sun. Me, a name I call myself. Far, a long long way to run. Sew, a needle pulling thread. La, a note to follow sew. Tea, I drink with jam and bread. That will bring us back to do.” Selain karena keindahannya (terutama ketika musim panas), adegan tadi membuat taman yang terletak di belakang Mirabell Palace itu wajib dikunjungi pencinta The Sound of Music.

Festung Hohensalzburg

Festung Hohensalzburg

Yang tak boleh di lewatkan, pada saat berdiri di sisi atas sebelah barat Schloss Mirabell, berbalik arahlah. Akan terpampang benteng kota bersejarah Festung Hohensalzburg, memanjang di atas bukit nun di sebelah timur. Bangunan benteng terbesar di Eropa Tengah yang dibangun pada 1077 itu masih utuh. Malah di dalamnya dibangun museum, Golden Hall untuk konser musik klasik, restoran mewah, hingga Stasiun Kereta Festungbahn.

Festung Hohensalzburg termasuk lokasi yang wajib dikunjungi di Salzburg. Harga tiket masuknya hanya 7 euro. Tersedia pilihan naik ke benteng dengan kereta atau berjalan mendaki 15 menit. Karena ukurannya yang superluas dan terletak di atas bukit, siapkan tenaga ekstra. Sehari sebelumnya, saya menghabiskan waktu setengah hari untuk mengelilinginya.

Di dalam benteng ada titik paling tinggi yang boleh dinaiki pengunjung. Dari atap tertinggi ini, kita bisa melihat kecantikan Salzburg dengan sudut 360 derajat. Dua bukit hijau tersembul di antara deretan bangunan kuno abad ke-15 berarsitektur barok (kubah) dan alur-mengular Sungai Salzach yang membelah kota. Di sisi selatan terlihat deretan Pegunungan Alpen. Puncak terdekat, yaitu Untersberg (1.972 meter), terlihat menawan dengan pucuk selimut salju.

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Kota Salzburg yang cantik dilihat dari Festung Hohensalzburg

Puas menikmati keindahan Schloss Mirabell, saya kembali ke kantor Salzburg Sighseeing Tours. Empat peserta tur menyusuri lokasi-lokasi syuting The Sound of Music lainnya sudah berkumpul. Karena hanya berlima, kami naik mobil. Sedangkan puluhan peserta tur keliling kota Salzburg naik bus.

Kebetulan semua peserta tur The Sound of Music kali ini perempuan dari negara-negara Asia. Termasuk pengemudi mobil sekaligus pemandu tur, yaitu Sonja (hanya saja, Sonja asli Austria).

Tujuan pertama kami adalah Villa Trapp, yang terletak di kawasan Aigen. Rumah bergaya barok bercat kuning dengan halaman amat luas ini adalah kediaman asli keluarga Baron von Trapp (The Sound of Music adalah film adaptasi dari memoar Maria von Trapp berjudul The Story of the Trapp Family Singers).

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Rumah Asli dari Keluarga von Trapp

Gazebo Berdinding Kaca

Gazebo berdinding kaca tempat Liesl bertemu Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen

Selanjutnya, rombongan mengarah ke selatan, menuju Hellbrunn Palace. Di halaman istana ini, diletakkan gazebo berdinding kaca, tempat Liesl bertemu dengan Rolf Gruber dan menanyikan lagu Sixteen Going to Seventeen. Sayang, pintu gazebo terkunci rapat. “Karena sudah ada beberapa kasus pengunjung yang terpeleset ketika meniru adegan melompat-lompat tempat duduk di gazebo,” kata Sonja.

Rute ketiga, melihat dua lokasi yang digabung menjadi rumah Von Trapp dalam film. Tampilan depan rumah Von Trapp berbeda dari tampilan belakang. Di sisi muka, kru film memakai Fronburg Palace yang terletak tak jauh dari Hellbrunn. Sedangkan untuk fasad belakang, mereka menggunakan Leopoldskron Palace, rumah megah di pinggir danau. Nah, syuting adegan di dalam rumah dilakukan di Studio 20th Century Fox di Los Angeles. Ooo… ternyata begitu, ya.

Setelah melewati kawasan Biara Nonnberg Abbey, tempat tinggal Maria sebelum bekerja di rumah Von Trapp, kami memulai perjalanan panjang menyusuri kawasan pedesaan Distrik Salzburg. Walau disertai gerimis, pemandangan perbukitan hijau, ladang rumput, dan rumah-rumah pedesaan dengan warna mencolok tetap mengundang decak kagum.

Jalan naik-turun dan berbelak-belok pun tak terasa, karena Sonja jago menyetir. Masih ditambah sajian lagu-lagu dalam The Sound of Music yang sebagian besar sudah kami hafal. Alhasil, sepanjang perjalanan sekitar satu jam ini riuh dengan kor menyanyikan The Sound of Music, Do-Re-Mi, Edelweiss, hingga So Long Farewell.

Pada saat melewati Danau Fuschl menuju ke arah Desa St. Gilgen, Sonja memperlambat laju kendaraan. Kawasan pegunungan dengan danau indah ini tampil sebagai pembuka film, dengan pengambilan gambar dari udara. Sebenarnya saya ingin berhenti sejenak di salah satu pebukitan di Distrik Salzkammergut ini, untuk menikmati pemandangan, sekaligus bergaya ala Maria von Trapp lengkap dengan baju tradisional ala pedesaan Austria.

Namun keinginan itu tak dikabulkan Sonja. Selain karena gerimis, udara di luar juga menggigit tulang. “Kalau musim panas, boleh. Kalau sekarang, kamu bisa membeku di luar sana,” tutur Sonja. Meski bisa memahami alasan itu, tetap saja ada sedikit sesal di hati.

Sonja menambahkan, bergaya ala Maria von Trapp memang banyak dilakukan peserta tur pada musim panas, puncak wisatawan datang ke Salzburg. Setiap tahun, Salzburg dikunjungi 6,5 juta turis. Mereka datang dengan aneka alasan. Mulai dengan napak tilas kehidupan musikus ternama Wolfgang Amadeus Mozart yang asli Salzburg, menikmati pertunjukan musik tahunan Salzburg Festival, berjalan menyusuri kota tua (Altstadt), hingga ikut tur The Sound of Music.

"I do", kata Maria von Trapp

"I do", kata Maria von Trapp

Perhentian terakhir kami adalah Mondsee Cathedral, yang ada di sisi utara Distrik Salzkammergut. Setting pernikahan Maria dengan Baron dilakukan di gereja mungil ini. Interiornya masih sama seperti dalam film. Suasana syahdu juga melingkupi seluruh bangunan. Hanya, kali ini yang ada di depan adalah misa pemakaman warga setempat, bukan pemberkatan pernikahan.

Sebelum kembali ke Salzburg, kami berjalan kaki menyusuri kota kecil Mondsee sembari mencari tempat rehat minum kopi. Setelah mengisi perut dengan aneka kue tradisional Austria, kami pulang melalui rute berbeda dengan pemandangan sama indah. Meski puas, tekad untuk kembali datang di musim panas tertanam di dada.

Astari Yanuarti (Salzburg)
Catatan : Artikel ini pernah dimuat di Gatra No 11/XV, 22-28 Januari 2009

Menurut Skytrax, lembaga paling terpercaya yang menjadi rujukan untuk urusan pemeringkatan maskapai penerbangan & bandara udara di seluruh dunia, berikut ini adalah maskapai penerbangan terbaik untuk tahun 2008 :

Maskapai Penerbangan Terbaik untuk Setiap Kategori :

1. Maskapai Penerbangan Terbaik Keseluruhan : SINGAPORE AIRLINES

2. Maskapai Penerbangan Murah (Low Cost Carrier) Terbaik Keseluruhan : EASY JET

3. Staff Kabin (Cabin Staff) Terbaik : ASIANA AIRLINES

4. Hiburan Dalam Pesawat (Inflight Entertainment) Terbaik : EMIRATES

5. Kelas Utama (First Class) Terbaik : CATHAY PACIFIC

6. Kelas Bisnis (Business Class) Terbaik : SINGAPORE AIRLINES

7. Kelas Ekonomi Premium (Premium Economy) Terbaik : EVA AIR

8. Kelas Ekonomi (Economy Class) Terbaik : ASIANA AIRLINES

9. Lounge Kelas Utama (First Class Lounge) Terbaik : QANTAS AIRWAYS

10. Lounge Kelas Bisnis (Business Class Lounge) Terbaik : VIRGIN ATLANTIC

Peringkat 10 Besar Maskapai Penerbangan Terbaik Keseluruhan :

1. SINGAPORE AIRLINES

2. CATHAY PACIFIC

3. QANTAS AIRWAYS

4. THAI AIRWAYS

5. ASIANA AIRLINES

6. MALAYSIA AIRLINES

7. QATAR AIRWAYS

8. AIR NEW ZEALAND

9. EMIRATES

10. ETIHAD AIRWAYS

Peringkat 5 Besar Maskapai Penerbangan Murah (Low Cost Carrier) Terbaik :

1. EASYJET

2. VIRGIN BLUE

3. JETSTAR AIRWAYS

4. AIR BERLIN

5. SOUTHWEST AIRLINES

Peringkat 3 Besar Maskapai Penerbangan Murah (Low Cost Carrier) Terbaik di Asia :

1. JETSTAR AIRWAYS

2. AIR ASIA

3. TIGER AIRWAYS

Kapan yah kita melihat GARUDA INDONESIA atau maskapai penerbangan asal Indonesia lainnya bisa masuk ke dalam Daftar Terbaik Dunia?Kita doakan saja.

Happy Flashpacking!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.